Perdagangan Indonesia-Cina Capai US$ 20 Miliar

Laporan dari Cina

Perdagangan Indonesia-Cina Capai US$ 20 Miliar

- detikFinance
Senin, 30 Jul 2007 08:49 WIB
Beijing - Perdagangan Indonesia dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) selama kuartal II tahun 2007 telah melampaui US$ 20 miliar. Padahal angka itu merupakan target perdagangan di tahun 2008.Demikian disampaikan oleh Duta Besar RI untuk RRT, Sudradjat, di kantor Kedubes RI di Beijing, Minggu (29/07/07) seperti dilaporkan kontributor detikcom, Vivian Tan dari Cina."Perdagangan antara Indonesia dan RRT untuk kuartal kedua tahun 2007 ini telah melampaui US$ 20 miliar. Target ini sebenarnya target 2008, tapi karena aktivitas kita baik maka sudah tercapai 2007 ini," jelas Sudradjat. Untuk tahun 2010, Indonesia optimistis bisa meraih target perdagangan sebesar US$ 30 miliar. "Saya optimis target ini bisa tercapai bila Indonesia meningkatkan produktivitas," tambahnya. Dijelaskan Sudrajat, kebutuhan RRT yang paling menonjol adalah bahan baku seperti CPO, karet, kakao, migas. Namun Cina hingga kini belum banyak mengimpor barang jadi dari Indonesia.Sebaliknya, kata Sudradjad, Indonesia mengimpor berbagai produk jadi dari Cina, seperti produk fashion, sepatu, dan barang-barang hasil produksi manufaktur lainnya."Jadi dengan RRT balance-nya adalah kita ekspor barang baku, dan impor barang jadi. tapi balance-nya masih surplus di pihak Indonesia," lanjutnya. Meskipun begitu, dipaparkan Sudrajat bahwa surplus perdagangan untuk Indonesia cenderung menurun dari tahun ke tahun. Sudrajat memberi ilustrasi bahwa surplus tahun 2006 hanya sekitar US$ 300 juta, atau turun dibandingkan dengan surplus pada tahun 2004 yang mencapai US$ 1 miliar.Kecenderungan penurunan surplus ini, kata Sudrajat, karena para pengusaha Indonesia tidak bisa memenuhi kuota permintaan dari RRT yang memang dalam jumlah sangat besar. "Tapi surplus bukan sesuatu hal yang sangat ditonjolkan, melainkan keseimbangan yang paling penting," tambahnya. Sementara dari sisi investasi, lanjut Sudradjat, banyak investor-investor RRT terutama perusahan milik negara mereka yang berinvestasi di bidang energi terutama minyak, batubara, dan sekarang yang cukup besar adalah listrik. Dari proyek 10 ribu megawatt pembangunan listrik di Indonesia, RRT berkontribusi lebih dari 5000 megawatt, sehingga perusahaan RRT akan berkontribusi terhadap investasi sekitar US$ 6-7 miliar di bidang perlistrikan sampai tahun 2009. Di bidang pertambangan, investor-investor RRT termasuk yang paling antusias. "Tahun 2006 lalu di Shanghai, di depan Presiden SBY dilakukan penandatanganan kontrak dan MoU senilai US$ 4 miliar untuk investasi di bidang pertambangan dan energi, dan nilai itu tidak termasuk investasi di bidang listrik," katanya. Kerjasama Indonesia dan Cina menurut Sudradjat semakin meningkat. Bahkan kini sedang dijajaki pabrikan-pabrikan truk, elektronik Cina untuk berinvestasi di Indonesia yang sedang dalam tahap penjajakan. "Juga ada minat untuk berinvestasi di bidang biofuel. Mereka sudah menawarkan untuk penanaman dan eksploitasi dari tanaman jarak," katanya. Sementara dari sisi investor Indonesia, kata Sudradjat, sudah banyak yang sudah berinvestasi dan berproduksi di RRT."Sperti perusahaan kertas, dan perusahaan yang juga berkolaborasi dalam bidang pupuk, batubara, dan lain lain. Juga ada pengusaha Indonesia yang berinvestasi di Shanghai, yaitu di bidang industri film plastik pembungkus," tandas Sudradjat. (qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads