Anggaran Minim, BPOM Mengeluh
Rabu, 01 Agu 2007 17:59 WIB
Jakarta - Badan pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) mengeluhkan minimnya anggaran, sehingga tidak bisa melakukan pengujian pada seluruh makanan dan kosmetik yang beredar."Anggaran BPOM Rp 440 miliar atau jauh lebih rendah dari anggaran laboratorium Departemen Pertanian yang sebesar Rp 1,3 trilun. Kita mintanya RP 1,5 triliun," kata Kepala BPOM Husniah Rubiana Thamrin Akib dalam jumpa pers di Departemen Perdagangan, Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Rabu (1/8/2007)."Masak harga manusia lebih rendah daripada hewan," keluh Husniah.Husniah menambahkan hanya untuk membeli sampel, kocek yang dikeluarkan BPOM cukup besar. Karena biasanya obat yang dipalsu adalah obat-obat yang mahal."Viagra yang sering dipalsu, kita harus beli Viagra yang harganya Rp 100 ribu per buah, sampel itu dibagikan untuk 30 BPOM. Jadi untuk beli Viagra saja sudah habis Rp 30 juta," kata Husniah.Menurut Husniah pihaknya terus menerus melakukan penelitian terhadap makanan sepanjang tahun, tapi hanya diprioritaskan pada makanan bayi dan balita karena keterbatasan anggaran."Selain itu yang diteliti secara berkala adalah yang rawan bermasalah seperti sirup yang menggunakan pewarna baju, terasi, tahu, mie basah, baso," jelas Husniah.
(arn/ir)











































