3 Alasan Cost Recovery Naik

3 Alasan Cost Recovery Naik

- detikFinance
Kamis, 02 Agu 2007 09:53 WIB
Jakarta - Departemen ESDM dkk akhir-akhir ini ditodong berbagai pertanyaan seputar cost recovery yang terus naik padahal produksi minyak dalam negeri justru terus menurun. Walau menggelar seminar sosialisasi cost recovery untuk memberikan penjelasan, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro nampaknya tak sabar untuk memberikan jawaban. Dalam seminar yang digelar di gedung Departemen ESDM, Jakarta, Kamis (2/8/2007) ini, Purnomo menjelaskan, bahwa ada 3 penyebab mengapa cost recover naik meski produksi minyak menurun. Pertama, karena saat ini harga minyak sedang mencapai posisi yang tinggi. Sehingga memicu kegiatan eksplorasi bahkan di lapangan-lapangan marjinal. Dampaknya, dibutuhkan biaya untuk pengadaan barang dan jasa seperti harga besi dan baja yang naik 50% beberapa tahun ini. "Ongkos perusahaan jadi naik, dan men-trigger cost recovery," katanya. Kedua, dibukanya lapangan-lapangan baru yang membutuhkan investasi untuk membukanya. Padahal produksi belum mencapai tingkat yang diinginkan. "Kedepan baru bisa kita nikmati kenaikan produksi dan pendapatannya," katanya. Ketiga, pengadaan rig dengan sistem tunjuk langsung. Sistem ini terpaksa digunakan karena kondisi yang mendesak. Pada saat penunjukkan itu, kata Purnomo, pemerintah harus cepat menunjuk pengadaan rig jika tidak mau didahului Afrika yang juga sedang gencar mengeksplorasi. Padahal seharusnya melalui sistem tender. "Larinya ya ke cost atau biaya," katanya. Ia juga menegaskan, bahwa cost recovery merupakan bagian dari model kontrak production sharing. Sebenarnya pemerintah juga tidak tertutup model kerjasama lain. "Tapi mereka (investor) maunya kontrak Production Sharing," lanjutnya. Terakhir, ia mengingatkan, bahwa sektor ini menyumbang lebih dari Rp 200 triliun, bahkan bisa jadi lebih dari Rp 300 triliun pada pendapatan negara. (lih/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads