Pemerintah Dinilai Tak Peduli Bahaya Mainan dari Cina

Pemerintah Dinilai Tak Peduli Bahaya Mainan dari Cina

- detikFinance
Kamis, 02 Agu 2007 12:57 WIB
Jakarta - Meski mengandung bahan-bahan berbahaya bagi anak-anak, mainan dari Cina masih aman melenggang di pasaran Indonesia. Semua itu karena ketidakpedulian pemerintah pada industri mainan."Belum ada kontrol dari pemerintah. Padahal impor mainan Cina pertahunnya naik terus. Di tahun 2004 nilainya tiga kali lipat dari nilai produksi kita, banyak juga yang lewat jalur ilegal," ujar Ketua Asosiasi Penggiat Mainan Edukatif dan Tradisonal Indonesia (APMETI) Dhanang Sasongko saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Kamis (2/8/2007).Cina kini tercatat menguasai 72 persen peredaran mainan di dunia. Dan Indonesia merupakan salah satu importir terbesar dari Cina itu. Jika tidak mendapat perhatian pemerintah, dalam dua tahun kedepan Indonesia dipastikan telah menjadi net importir mainan."Pemerintah tampaknya kurang perhatian terhadap industri mainan lokal. Padahal produk kita sangat memperhatikan aspek kesehatan dalam kandungan bahan bakunya. Mainan Cina bungkusnya saja sudah berbahaya, makanya sulit masuk pasar Eropa," keluhnya.Menurutnya, mudahnya mainan Cina diterima pasar Indonesia karena ketidakmerataan mainan yang berbobot. Sehingga yang bisa mendapat akses mainan yang sehat dan berkualitas hanya anak-anak golongan kaya."Salah satu faktor tingginya impor, anak daerah banyak yang tidak mendapat akses. Sedangkan mainan Cina sudah masuk ke berbagai penjuru dengan harga yang murah. 72 persen anak usia dini tidak terlayani dengan mainan berkualitas," jelasnya.Menurut Dhanang, di era otonomi daerah ini, seharusnya para pemda berpikir bagaimana mencerdaskan putra daerahnya dengan membuat mainan di wilayahnya sendiri sehingga bisa mengontrol kualitasnya. "Bahan baku di Indonesia kan tidak masalah," cetusnya.Dhanang menjelaskan perusahaan jenis mainan edukasi kini berjumlah 60 perusahaan skala menengah, jenis mainan umum ada 70 perusahaan yang muncul pada tahun 1991. Namun sampai saat ini hanya tinggal 15 perusahaan karena bangkrut terkena serbuan mainan Cina terdiri 10 perusahaan lokal dan 5 perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA). Perusahaan PMA yang bertahan itu diantaranya Mattel yang merupakan produsen boneka Barbie.Dhanang meminta sudah saatnya pemerintah memperhatikan industri mainan lokal dan sadar pentingnya mengetes bahan baku mainan yang diedarkan tidak akan menggangu kesehatan anak-anak."Harusnya pemerintah sadar bahaya ini dan mulai mengetes sampel-sampel mainan yang terindikasi mengandung bahan berbahaya. Agar mainan berkualitas bisa murah setidaknya ada insentif sehingga putra bangsa menjadi cerdas," ujarnya. (arn/qom)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads