Harga Minyak Bisa Tembus US$ 80
Kamis, 02 Agu 2007 14:10 WIB
Jakarta - Harga minyak yang kini mencapai US$ 74 per barel diprediksi melonjak lagi hingga mencapai US$ 80 per barel dua pekan lagi. Menurut pengamat perminyakan Kurtubi, kunci penurunan harga minyak itu adalah produksi minyak Saudi Arabia. "Kuncinya hanya satu, produksi Saudi Arabia. Kalau dia mau melepas spare capacity nya, beres," katanya disela-sela seminar cost recovery, digedung Departemen ESDM, Jakarta, Kamis (2/8/2007). Saat ini spare capacity Saudi mencapai 2,5 juta barel per hari. Jika Saudi mau melepas 500 ribu barel per hari saja, maka laju harga minyak bisa menurun. Namun ia menegaskan, penurunan itu hanya mencapai harga US$ 70 per barel. Artinya, harga minyak tidak akan dibawah US$ 70 per barel, bahkan sampai akhir tahun. "Tidak akan bisa. Saudi akan berpikir, harga US$ 70 sudah cukup bagus untuk dunia, meski dia ditekan Uni Eropa," tegasnya. Naiknya harga minyak ini disebabkan tingginya demand terutama dari Cina yang pertumbuhan ekonominya mencapai lebih dari 11% per tahun.Sementara itu Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro menyatakan, hingga saat ini pemerintah hanya melakukan pantauan saja. Yang pasti, akan berimbas pada harga BBM kecuali yang disubsidi. "Kalau harga minyak naik, tentu efeknya positif kepada migas, tapi tidak kepada subsidi," katanya. Ia mengaku tidak berkomunikasi dengan OPEC apakah akan melakukan peningkatan produksi atau tidak. Sementara Kurtubi menambahkan, negara non OPEC tidak akan menambah produksi minyaknya.
(lih/qom)











































