Tim Ekonomi Tak Jual Ideologi

Menko Perekonomian:

Tim Ekonomi Tak Jual Ideologi

- detikFinance
Selasa, 14 Agu 2007 11:46 WIB
Jakarta - Kinerja menteri ekonomi kerap kali dinilai condong pada ideologi dan patuh pada lembaga seperti seperti IMF dan Bank Dunia.Namun Menko Perekonomian Boediono membantah keras tudingan itu. Boediono menjamin tim ekonomi tidak pernah menjual ideologinya.Hal tersebut disampaikan Boediono dalam diskusi publik dengan pemenang Nobel ekonomi Joseph Stiglitz di Hotel Four Seasons, Jakarta, Selasa (14/7/2007)."Beberapa teman ekonom mengatakan bahwa pemerintah saat ini telah dijual kepada ideologi tertentu, sejauh saya sadari, tidak ada anggota tim ekonomi yang telah menjual prinsip-prinsip mereka dengan wacana ideologi-ideologi apapun," ujarnya."Bagi kami yang menarik adalah, apa yang bisa kami lakukan untuk mencapai tujuan kami. Kami tidak perduli dengan ideologi apapun. Kami kira sangat tidak produktif untuk mencari jawaban masalah sebenarnya melalui wacana ideologi yang ada," tambahnya.Ketika pemerintah mencoba untuk menstabilkan ekonomi akibat krisis, yang ada dalam pikiran tim ekonomi adalah bukan pilar atau klausul dari 'Washington Consensus' yang digagas IMF dan Bank Dunia."Tapi stabilitas dari harga kebutuhan pokok karena itu mencakup lebih dari 50 persen belanja keluarga miskin. What we have in mind adalah bagaimana menurunkan cost of fund bagi SME. Ketika kita berharap membuka beberapa sektor untuk kompetisi, what we have in mind adalah harga barang dan jasa yang lebih murah dan lebih berkualitas bagi seluruh penduduk," paparnya.Mengenai globalisasi yang jadi fokus diskusi dengan Stiglitz, Boediono mengatakan Indonesia harus berperan aktif dalam globalisasi."Kita harus berperan aktif dan pintar, dengan itu Indonesia bisa mendapat keuntungan maksimal sekaligus mengurangi risiko yang terkait dengan globalisasi," ujarnya.Sementara itu Stiglitz mengatakan beberapa tantangan dalam globalisasi masih menghadang Indonesia, yakni masalah kemiskinan, pengangguran dan pertumbuhan ekonomi."Pertumbuhan belum cukup cepat untuk menciptakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan," ujar pengkritik kebijakan IMF dan Bank Dunia itu.Namun dia setuju dengan Menko yang mengatakan bahwa Indonesia harus mengambil keuntungan dari globalisasi. (ddn/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads