Duh! AS Ngutang US$ 2 Miliar per Hari ke Negara Miskin
Selasa, 14 Agu 2007 15:57 WIB
Jakarta - Sistem ekonomi global tidak berjalan dengan baik, terutama untuk negara berkembang, uang mengalir ke puncak dari si miskin ke si kaya.Amerika Serikat (AS) yang merupakan negara terkaya di dunia tampaknya tidak puas dengan kekayaan yang dimilikinya. dan masih meminjam US$ 2 miliar per hari dari negara-negara termiskin.Sebagian aliran dolar dari negara-negara berkembang menuju negara-negara maju digunakan untuk melunasi utang-utang yang jumlahnya sangat besar. Sebagian lainnya digunakan untuk membeli obligasi dari Amerika Serikat dan negara-negara lain yang memiliki mata uang yang kuat.Obligasi ini akan ditambahkan ke cadangan devisa negara-negara berkembang. obligasi tersebut memiliki manfaat yang sangat besar, sangat likuid, sehingga dapat dijual dengan cepat jika negara membutuhkan uang tunai. Tetapi obligasi tersebut juga memiliki biaya yang besar yakni tingkat suku bunga yang rendah.Sebagian besar obligasi tersebut adalah obligasi jangka pendek (US treasury bills) yang belakangan ini menghasilkan yield rendah dengan tingkat suku bunga 1 persen."Sungguh aneh bahwa negara-negara miskin begitu ingin meminjamkan modal sebesar ratusan miliar dolar kepada negara terkaya di dunia," tulis peraih Nobel Ekonomi 2001 yang juga ekonom AS Joseph E Stiglitz dalam bukunya 'Making The Globalization Work'.Buku itu diluncurkan di Hotel Four Seasons, Jakarta, Selasa (14/7/2007).Pada tahun 2004, aliran dolar dari Cina, Malaysia, Filipina dan Thailand saja, yang sebagian besar digunakan untuk membangun cadangan devisa, jumlahnya cukup fantastis, yaitu US$ 318 miliar.Jadi menurut Stiglitz, uang yang seharusnya mengalir dari negara kaya ke negara miskin tak terjadi dalam sistem keuangan global.Stiglitz pun meminta sistem cadangan devisa global yang saat ini menggunakan dolar AS direformasi. Ketimpangan dalam ekonomi global terjadi dimana AS sudah menjadi negara terkaya di dunia yang melampaui kekayaannya."Pertanyaannya adalah berapa lama Amerika dapat berperilaku seperti itu? Apakah negara tersebut dapat terus menghambur-hamburkan uangnya? Dan adakah alternatif cara yang lebih layak untuk menghindari bias dari penurunan ekonomi global," tulis mantan Senior Vice Presiden Bank Dunia ini.
(ddn/qom)











































