BUMN Jangan Minder dengan Temasek dan Khazanah
Rabu, 15 Agu 2007 13:56 WIB
Jakarta - Perusahaan-perusahaan BUMN Indonesia tidak boleh merendah diri dengan melihat perkembangan holding besar seperti Temasek dan Khazanah. "Jika kita satukan aset-aset BUMN semuanya, nilainya bisa US$ 400-500 miliar, Temasek hanya sekitar US$ 75 miliar dan Khazanah sekitar US$20 miliar, karena itu potensi BUMN kita cukup besar," kata Sekretaris Menteri Negara BUMN Said Didu.Hal itu diungkapkan Didu, dalam sebuah diskusi bertema 'Privatisasi vs Nasionalisme' yang diadakan oleh ICMI di Hotel Bumikarsa, Jakarta, Rabu (15/8/2007).Said menjelaskan, privatisasi BUMN seharusnya tidak menjadi suatu alternatif guna menutup defisit anggaran pemerintah. Tapi lebih kepada tujuan untuk memperkuat struktur modal demi pertumbuhan BUMN itu sendiri. "Privatisasi BUMN sebagai alternatif untuk menutup defisit adalah keputusan politik. Kita tahu sayang sekali jika aset-aset negara yang memiliki potensi besar ini dijual hanya untuk menutupi defisit anggaran, kita harusnya bisa memproteksi aset-aset negara ini agar tidak habis," ujarnya. Said juga mengatakan bahwa seharusnya privatisasi BUMN ini dilakukan untuk memperkuat struktur modal BUMN itu sendiri. Menurutnya BUMN harus diperlakukan sama dengan swasta dimana tidak ada campur tangan non koorporasi di dalam BUMN. "Privatisasi itu bisa di rem jika memang pengeluaran anggaran pemerintah bisa di rem, contohnya anggaran belanja untuk bupati di daerah itu kalau bisa dipotong saja karena itu merupakan pemborosan," jelasnya.
(dnl/ir)











































