PTPN XI Kembali Lepas 11.490 Ton Gula
Rabu, 15 Agu 2007 15:40 WIB
Surabaya - PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI kembali melepas 11.490 ton gula hasil giling 2007. Dalam tender yang digelar di Surabaya pada Selasa (14/8/2007) kemarin diikuti 29 perusahaan atau kalangan pedagang gula.Komposisinya terdiri dari 9.490 ton milik petani dan 2.000 ton milik pabrik gula (PG). Harga terbentuk mencapai Rp 5.406.888 per ton untuk produksi PG-PG wilayah Timur. Sedangkan untuk PG-PG Wilayah Madiun dan sekitarnya terbentuk harga Rp 5.407.000 ton yang diperoleh melalui negosiasi.Stabilnya harga tender gula pada kisaran Rp 5.400.000 per ton tampaknya tidak terlepas dari fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap valuta asing dalam beberapa hari terakhir yang mencapai kisaran 9.300-9.400 per dolar AS.Harga gula dunia sendiri kini berada pada level sekitar US$ 280-USD 285 per ton FOB (harga di negara asal belum termasuk premium dan biaya pengapalan) untuk pengapalan bulan Oktober 2007. Harga sampai gudang importir sampai negara tujuan (CIF) masih harus ditambah USD 20-85 per ton, tergantung dari mana gula harus didatangkan.Corporate Secretary PTPN XI Adig Suwandi mengatakan, semakin jauh gula didatangkan, semakin besar pula biaya pengapalannya. "Sebutlah kalau gula didatangkan dari Thailand, biaya pengapalan hanya US$ 20, sementara kalau dari Brasil bisa mencapai USD 85 per ton," katanya, Rabu (15/8/2007).Meski sekarang berlangsung giling pada semua PG di Indonesia, namun harga gula dunia dan nilai tukar rupiah masih menjadi referensi bagi pedagang untuk menentukan besarnya harga saat penawaran berlangsung.Selain faktor eksternal, kata dia, secara internal harga gula juga dipengaruhi kondisi internal yang terjadi di Indonesia. Isu stagnasi kenaikan rendemen pada sejumlah PG menimbulkan kecemasan produksi hasil giling 2007 tidak mencapai target yang diharapkan. Harus diakui, memang terjadi stagnasi kenaikan rendemen, tetapi tidak menyeluruh.Namun semuanya telah diantisipasi dengan mengolah gula kristal mentah (raw sugar) impor yang dicampur tebu selama masa giling sebagai antisipasi berkurangnya pasokan tebu.Stagnasi rendemen lebih disebabkan terjadinya perubahan iklim yang berdampak pada meluasnya kekeringan dan cekaman air di sejumlah sentra budidaya tebu pada tahun lalu."Pola hujan dan awal kemarau yang kacau sangat berpengaruh terhadap terbentuknya rendemen," tambahnya.Karena itu, industri gula disarankan melakukan penyesuaian struktural dengan tujuan pola tanam memungkinkan tanaman lebih tahan terhadap kekeringan. Beberapa tindakan yang sudah dilakukan antara lain pengairan secara selektif melalui pemanfaatan sumber air yang dipompa, pupuk ekstra, dan perbaikan sifat fisik tanah dengan memberikan pupuk organik biokompos.
(bdh/mar)











































