Selandia Baru Temukan Baju Berformalin Asal Cina

Selandia Baru Temukan Baju Berformalin Asal Cina

- detikFinance
Senin, 20 Agu 2007 16:41 WIB
Wellington - Produk asal Cina kembali dapat sorotan. Pemerintah Selandia Baru kini tengah menyelidiki adanya baju impor asal Cina yang diduga mengandung bahan kimia formalin.Kandungan formalin dalam baju itu ditemukan oleh para ahli yang bekerja untuk Target, sebuah program televisi di bidang pengawasan konsumen milik televisi Selandia Baru.Para ahli itu menemukan formalin yang terdapat dalam baju berbahan katun dan wool dari Cina itu melebihi ambang batas formalin yang diperbolehkan, yakni hampir 900 kali.Ministry of Consumer Affairs general manager Selandia Baru Liz MacPherson mengatakan departemennya kini tengah menginvestigasi kasus itu."Kami menanggapi hal ini dengan serius, kami kini tengah mengambil langkah darurat dengan mengambil beberapa sampel baju dari pasar," ujarnya seperti dikutip AFP, Senin (20/8/2007).Formalin memang biasa digunakan untuk memberi kesan kaku pada pakaian. Hasil penelitian internasional menunjukkan kandungan formalin hingga 20 bagian per sejuta atau part per million (ppm) bisa menyebabkan iritasi pada kulit, gangguan pernafasan dan kanker.Produser Target Simon Rod mengatakan tenaga ahli pemerintah sudah menguji berbagai macam jenis baju mulai dari baju anak-anak hingga dewasa. Hasilnya mencengangkan, kadar formalin melebihi ambang batas, sampai mereka berpikir mereka sudah salah menganalisis."Hasil penelitian kami sangat mengejutkan, kandungan formalinnya bervariasi antara 230 ppm hingga 18.000 ppm," ujarnya kepada harian Sunday Star Times."Ini hampir tidak bisa dipercaya, beberapa baju yang dites kandungan formalinnya melebihi 900 kali kadar normal," imbuhnya.Menteri Perdagangan Selandia Baru Judith Tizard mengatakan jika perlu pihaknya akan meminta penjelasan kepada Dubes Cina di Selandia Baru mengenai hal ini.Barang asal Cina akhir-akhir menarik perhatian masyarakat internasional menyusul beberapa kasus.Di AS, perusahaan mainan Mattel menarik 18 juta produknya yang dibuat di Cina, karena mengandung logam timbal. Di Indonesia, permen berformalin ditemukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan. (ddn/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads