Harga Sembako Naik, Pemerintah Malah Ribut Data
Rabu, 22 Agu 2007 11:20 WIB
Jakarta - Harga sembako memasuki bulan puasa di beberapa daerah mengalami kenaikan. Di antara instansi pemerintah sering ribut untuk mengintervensi pasar apabila terjadi gejolak harga.Hal tersebut disampaikan Dirjen Perdaganan Dalam Negeri Departemen Perdagangan Ardiansyah Parman dalam seminar sehari bertajuk 'Pembenahan Sistem Distribusi dan Perkulakan' di Hotel Nikko, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (22/8/2007)."Ributnya selalu tentang data (produksi), sehingga keputusan kelamaan diambil. Padahal harga itu sudah menjadi indikator paling penting, bahwa suatu daerah tersebut suplainya kurang kalau terjadi harga naik," ujarnya.Dia meminta tidak usah berdebat masalah data produksi. Harga sudah bisa jadi landasan pengambilan keputusan.Apabila harga bahan pokok di suatu daerah sudah naik, seharusnya di daerah tersebut langsung disediakan suplai barangnya sehingga lonjakan harga tidak terus terjadi, misalnya dengan cara operasi pasar.Di bagian lain, Ardiansyah menilai untuk mengatasi gejolak harga sembako yang harus dibenahi terlebih dahulu bukan sistem distribusi namun lebih kepada sistem pola tanam di Indonesia yang selama ini masih hanya mengandalkan anugerah Tuhan."Kenapa kalau musim kering cabe merah pasti harganya naik, itu karena kita masih mengandalkan anugerah Tuhan, karena teknologi belum masuk ke sistem pola tanam, kapan sih kita tidak tergantung hujan, agar suplai dapat kontinuitas," ujarnya.Kalau sistem distribusi dibenahi tapi suplai tidak dibenahi itu sama saja dengan hasilnya tidak akan optimal. "Maka sistem on farm/i> dan off farm harus diperbaiki bersama-sama," ujarnya.Pola tanam harus dibenahi, secanggih apapun sistem distribusi kalau suplai tidak bisa memenuhi permintaan maka akan menjadi penghambat pengadaan barang tersebut.
(ddn/qom)











































