4 Hari Sekali Ada Pasar Terbakar
Rabu, 22 Agu 2007 14:42 WIB
Jakarta - Data Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) mencatat dalam kurun waktu 29 Juni hingga 20 Agustus 2007 sedikitnya 16 pasar tradisional terbakar. Kerugian pada pedagang dalam 1 pasar tersebut diperkirakan mencapai Rp 100 miliar.Hal tersebut disampaikan Kabid Penelitian dan Pengembangan DPP APPSI Setyo Edy di sela-sela seminar sehari bertajuk Pembenahan Sistem Distribusi dan Perkulakan di Hotel Nikko, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (22/8/2007)."Bayangkan hampir 4 hari sekali ada pasar terbakar, pedagang yang mengalami kerugian terbesar adalah pedagang Pasar Turi (Surabaya) dan Banjaran (Bandung)," kata Setyo.Setyo menuding pasar-pasar itu dibakar dengan sengaja. Yang selalu dijadikan kambing hitam adalah korsleting atau arus pendek listrik.Dia mencontohkan di Pasar Turi, ada upaya sistematis memindahkan pedagang ke Pusat Grosir Turi. Sebanyak 40 persen pedagang yang punya duit langsung pindah ke kios baru, namun yang tidak mampu terpaksa menggelar di kaki lima.Maraknya kasus kebakaran telah membuat pedagang di Jakarta yang jumlahnya 5.000 orang ketar-ketir. Mereka takut pasar yang selama ini jadi tumpuan hidup dibakar."Temen-temen di Jakarta sangat khawatir setelah Pemda DKI memiliki program akan meremajakan 56 pasar yng dikhawatirkan polanya selalu dipaksakan, harga kiosnya harus sesuai mereka," ujarnya.Misalnya kios di Blok A Fatmawati per meter persegi dijual Rp 40 juta, di Cibibur Rp 15 juta. Padahal para pedagang itu hanya bisa membeli di bawah Rp 10 juta, pedagang pasar kini bersaing ketat denga peritel, sehingga keuntungan tidak sebesar dulu."Mereka ini sering ditakut-takutin kalau engak nurut dibakar saja, contohnya waktu pasar Santa sekarang 60 persen kondisinya kosong. waktu menyetujui proses peremajaan ada rasa ketakutan akan terjadi kebakaran," ujarnya.APPSI bukannya menolak peremajaan pasar, namun peremajaan itu harusnya bersahabat dengan pedagang. "Kita sepakat infrastruktur pasar harus dibenahi, seharusnya peremajaan itu dilakukan 15 atau 20 tahun yang lalu ketika peritel modern mulai masuk. Kalau sekarang terlambat dilakukan Pemda, karena ritel modern tumbuh pesat sebaliknya pasar tradisional tumbuh kotor," ujarnya.Ketua Umum APPSI Aries Mufti mengatakan biasanya pasar yang mau dibakar itu lokasinya strategis untuk diremajakan dan jangka waktu pembangunan atau penyewaannya akan habis sehingga membutuhkan peremajaan.
(ddn/qom)











































