Pencapaian Target Investasi 2008 Perlu Sejumlah Syarat

Pencapaian Target Investasi 2008 Perlu Sejumlah Syarat

- detikFinance
Senin, 27 Agu 2007 11:48 WIB
Jakarta - Pertumbuhan investasi yang tinggi sebagaimana tercantum dalam Nota Keuangan dan RAPBN 2008 sebesar 15,5 persen menurut Bank Indonesia (BI) dapat dicapai apabila beberapa prasyarat dipenuhi. Hal ini dikatakan oleh Deputi Gubernur BI Aslim Tajuddin dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI bersamaan dengan Menteri Keuangan dan Kepala BPS di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (27/8/2007). "Prasyarat pertama adalah komitmen untuk merealisasikan proyek-proyek infrastruktur yang dicanangkan pemerintah sebagai prioritas yaitu pembangunan jalan tol di Jawa, Madura dan Bali serta pembangunan pembangkit listrik 10 MW," jelasnya. Lalu yang kedua adalah upaya lanjutan dari pemerintah untuk memperbaiki iklim investasi seperti penyelesaian UU ketenagakerjaan dan upaya mengatasi hambatan investasi di daerah-daerah. "Langkah-langkah tersebut perlu ditempuh dan diupayakan pemenuhannya, mengingat hingga semester I-2007 pertumbuhan investasi masih relatif rendah yaitu sekitar 7,3 persen (yoy)," tuturnya. Padahal menurut Aslim, untuk keseluruhan tahun 2007 pemerintah memperkirakan investasi akan tumbuh 12,3 persen, sehingga untuk mencapainya diperlukan pertumbuhan investasi sekitar 17 persen di semester II-2007. "Investasi dalam jumlah yang memadai akan sangat bermanfaat bagi perekonomian, tidak hanya karena kemampuannya untuk menyerap tenaga kerja baru, namun juga manfaatnya dalam meningkatkan kapasitas produksi nasional sehingga perekonomian tidak cepat memanas apabila di sisi permintaan agregat diberikan stimulus," paparnya. Untuk memfasilitasi investasi, BI dikatakan Aslim akan terus mengupayakan terjaganya stabilitas makro dan mendorong intermediasi perbankan sehingga percepatan pertumbuhan ekonomi dapat berlangsung dalam kondisi yang stabil. "Pembiayaan defisit APBN 2008 sebesar 1,7 persen dari PDB sebagaimana direncanakan pemerintah diperkirakan tidak akan menimbulkan crowding out untuk investasi swasta mengingat kondisi likuiditas perekonomian yang masih memadai," imbuhnya. Dari sisi moneter menurutnya peningkatan defisit tersebut diperkirakan tidak memberikan dampak inflatoir sepanjang tambahan defisit RAPBN dialokasikan untuk mendukung kegiatan investasi, seperti pembiayaan infrastruktur dan rehabilitasi daerah-daerah bencana. (dnl/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads