RI Khawatir Serbuan Baja Cina
Kamis, 30 Agu 2007 11:31 WIB
Jakarta - Pasar baja nasional dikhawatirkan bisa kebanjiran produk baja asal Cina yang kini sedang mengalami kelebihan suplai baja.Cina sejak tahun 2005 mengalami kelebihan suplai baja sebesar 43 juta ton dan meningkat menjadi 116 juta ton pada 2006.Demikian disampaikan Dirjen Industri Logam, Mesin, Tekstil dan Aneka Departemen Perindustrian, Ansari Bukhari dalam seminar optimalisasi industri baja sebagai pilar kekuatan nasional di Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta, Kamis (30/8/2007).Ansari melihat serbuan baja Cina ini tidak terlepas dari pengaruh globalisasi dengan makin ketatnya persaingan dan terbukanya pasar bebas.Oleh karena itu Depperin merancang grand strategy pembangunan industri terutama industri baja. Saat ini suplai produk baja dalam negeri masih terbatas pada produk baja untuk konstruksi atau low medium grade. Produksi baja nasional belum bisa memproduki baja untuk kebutuhan mesin atau peralatan produksi dan otomotif yang high grade.Akibatnya, impor baja terutama untuk memenuhi industri otomotif masih cukup tinggi pada tiga tahun terakhir yakni 2004 senilai US$ 3,4 miliar, 2005 sebesar US$ 4,39 miliar dan 2006 sebesar US$ 3,75 miliar.Indonesia juga sangat tergantung impor bijih besi (pellet) untuk kebutuhan produksi baja dalam negeri.Di sisi lain sejumlah kendala masih menghadang industri baja seperti mesin dengan skala produksi terbatas, suplai gas belum terjamin, serta infrastruktur di luar Jawa yang tidak mendukung. Peran lembaga keuangan juga belum mendukung pendanaan investasi baja. Diharapkan pengembangan industri baja yang dilakukan sejak 2004 hingga 2009 bisa meningkatkan konsumsi baja per kapita dari 29 kilogram menjadi 44 kg pada 2009.Angka konsumsi ini masih jauh lebih rendah dibanding Malaysia dan Thailand yang masing-masing sebesar 343 kg dan 176 kg.
(ir/qom)











































