Subsidi Minyak Goreng Dikaji Dalam Bentuk Tunai
Sabtu, 01 Sep 2007 11:42 WIB
Jakarta - Pemerintah sedang mengkaji pemberian subsidi tunai bagi masyarakat miskin yang akan membeli minyak goreng. Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan Bayu Krisnamurti menjelaskannya dalam jumpa pers di gedung Depkeu, Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu (1/9/2007). "Jadi selain diberi minyak goreng murah, keluarga juga punya uang untuk beli minyak goreng," katanya. Bayu menjelaskan, mekanisme subsidi ini akan dikaitkan dengan program beras miskin (raskin). Bayu mencontohkan, misalnya dengan kondisi sekarang RTM (rumah tangga miskin) membeli raskin dengan harga Rp 10.000 untuk 10 kg. Dengan subsidi tunai, ini akan diringankan sehingga RTM bisa beli raskin seharga Rp 5.000 untuk 10 kg. "Dengan begitu RTM bisa punya uang lebih untuk membeli minyak goreng. Tapi bisa ia gunakan bisa juga tidak," katanya. Sedangkan sisa yang Rp 5.000 akan dibayarkan pemerintah. Namun Bayu menegaskan, berapa harga yang akan disubsidi pemerintah masih sedang dibicarakan, dan diharapkan bisa selesai secepatnya. Selain subsidi tunai, pemerintah juga akan menyalurkan minyak goreng curah yang disubsidi harganya melalui pasar murah dan pasar khusus. Pasar murah ini akan berlaku selama tiga bulan menjelang dan sesudah Idul Fitri nanti. Kedua program ini akan menggunakan dana subsidi minyak goreng APBNP 2007 yang diajukan sebesar Rp 325 miliar.Sementara Direktur Bina Pasar dan Distribusi Ditjen Perdagangan Dalam Negeri, Gunaryo mengatakan untuk menentukan lokasi dan volume pasar murah, pihaknya akan bekerja sama dengan Kementrian UKM dan Koperasi. Karena kementrian tersebut dinilai sudah mengetahui lokasi mana saja yang membutuhkan minyak goreng. Baik UKM ataupun masyarakat yang berpenghasilan rendah. "Sejauh ini yang sudah siap DKI Jakarta, di wilayah bantaran sungai atau di kelurahan tertentu. Tinggal tunggu harga yang pas, dua atau tiga hari lagi kita pastikan," katanya. Bayu juga menegaskan bahwa pasar murah akan dilakukan menyebar di seluruh Indonesia. Hanya saja harga dan volume minyak goreng yang dipasar murahkan bisa berbeda untuk setiap wilayah. "Karena harga di Jayapura beda dengan Surabaya, begitu juga kebutuhan volumenya," katanya.
(lih/ir)











































