Konsumsi Gas Diprediksi Naik 5,3%

Konsumsi Gas Diprediksi Naik 5,3%

- detikFinance
Rabu, 05 Sep 2007 17:35 WIB
Jakarta - Konsumsi gas dalam negeri diprediksi meningkat 5,3% per tahun untuk periode 2007-2010. Salah satunya dipicu oleh makin mahalnya harga BBM. Perkiraan konservatif kenaikan konsumsi gas 2007 sampai 2020 hanya sekitar 3,5% per tahun. Yaitu 4,2 bcfd (billion cubic feet per day) pada 2007 menjadi 6 bcfd pada 2020. Namun kenaikan tertinggi terjadi pada 2007-2010 sebesar 5,3% per tahun. Hal itu terungkap dalam paparan yang disampaikan Kepala Dinas Pengembangan Pasar Minyak dan Gas Bumi BP Migas Fathor Rahman dalam diskusi Marketing Oil and Gas di Graha Sarana Jaya, Jakarta, Rabu (5/9/2007). Menurutnya peningkatan ini dipicu oleh harga BBM sehingga banyak yang beralih ke gas, kurangnya pasokan gas untuk listrik, pertumbuhan industri, dan berakhirnya kontrak jual beli gas khususnya untuk pabrik pupuk. "Kenaikan tajam itu sebagian besar di Jawa," kata Fathor ketika dihubungi detikFinance, Rabu (5/9/2007). Namun ia menegaskan, kenaikan konsumsi gas ini masih bisa dipenuhi dari dalam negeri. Sumber-sumber gas yang bisa memasok kebutuhan ini antara lain dari lapangan Conoco Phillips dan Pertamina di Sumatera yang dialirkan melalui pipa SSWJ, ada dari JOB Jambi Merang, dan dari lapangan Medco di Sumatera Selatan. "Selain itu ada juga dari lapangan di Jawa Timur seperti Santos, EMP, Husky, Kepodang, dan mudah-mudahan Cepu," lanjutnya. Setelah 2010 kenaikan konsumsi gas justru diprediksi melandai. Fathor menjelaskan, itu karena setelah 2010 pembangkit listrik sudah menggunakan batubara. "Jadi kita bisa fokus ke industri," katanya. Setelah 2010, sumber-sumber gas yang diandalkan antara lain Blok Mahakam milik Total yang diharapkan bisa mensuplai mulai 2011, 5 lapangan deepwater di Kalimantan Timur milik Chevron yang diharapkan bisa mensuplai 2014-2015. Lalu ada dari lapangan Masela milik Inpex yang diharapkan bisa mensupply pada 2015 dan dari lapangan Tangguh train 3 yang diharapkan bisa mensupply pada 2013-2014. Dalam paparannya, Fathor juga memaparkan dalam kontrak-kontrak yang ditandatangani mulai 2002 sampai 2006 akhir, pembangkit listrik mendapat alokasi 5,1 tcf, industri 4,3 tcf, dan pabrik pupuk 1,8 tcf. (lih/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads