Bulog Tidak Lagi Lakukan Operasi Pasar
Kamis, 06 Sep 2007 19:39 WIB
Jakarta - Bulog kini tidak lagi melakukan operasi pasar (OP) dan mengganti sistem tersebut dengan operasi stabilisasi harga (OS). Jika OP langsung menyasar konsumen, OS akan masuk ke pasar. "Sekarang tidak ada lagi OP kita menganut sistem operasi stabilisasi harga disingkat OS jadi ketika harga naik tidak dibiarkan membesar baru dipadamkan. Tetapi ketika melihat gejala naik yang kita serahkan ke divre (divisi regional) untuk melakukan langsung intervensi seperti halnya BI mengendalikan kurs dolar. Digelontorkan dolar ke pasar harganya jadi turun, seperti itu," papar Dirut Perum Bulog, Mustafa Abubakar.Hal itu diungkapkan Mustafa di kantor kementerian BUMN, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Kamis (6/9/2007). Mustafa tidak menyebutkan biaya OS ini tapi diharapkan bisa berjalan dengan perangkat dan manajemen yang ada."Tergantung daerah, kita berbagi tanggung jawab dengan daerah, kalau pusat butuh beras impor, diimpor oleh pusat," katanya.Untuk menentukan kualitas beras dan harganya, Bulog akan bekerjsama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk mengetahui kualitas beras apa yang naik harganya."Harganya tergantung masing-masing daerah, kita serahkan pada divre. Kalau menurut mereka harga sudah mengkhawatirkan baru digelontorkan ke pasar diserahkan kepada mereka," ujar Mustafa. Untuk batasan harganya, Bulog sudah menetapkan per 1 September 2007, yakni rata-rata secara nasional Rp 4.750 per kg untuk kualitas murah dan yang premium Rp 6.000 per kg.Jika OP sasarannya langsung ke konsumen, maka OS menurut Mustafa langsung ke pasar."Kita akan operasikan pasar-pasar yang paling berpengaruh, misal Jakarta pengaruhnya sampai dengan 27,5 persen atau hampir 30 persen secara nasional. Jawa 60 persen sumbangan beras terhadap inflasi secara nasional dan luar Jawa 40 persen. Nah nanti kita lihat, mungkin kami akan utamakan Jawa, Medan, luar Jawa mungkin Makassar," tuturnya. Stok beras Bulog menurut Mustafa masih tinggi sebesar 1,74 juta ton dan jumlah impor yang masuk 830 ribu ton."Oleh karenanya spekulan tahu bahwa ini tidak main-main jadi mereka tidak berani spekulasi," katanya.
(ir/ard)











































