Asia Belum Lulus Tes Krisis
Sabtu, 08 Sep 2007 14:35 WIB
Sydney - Negara-negara Asia berhasil pulih dari krisis ekonomi yang melanda kawasan ini pada 10 tahun lalu. Perekonomian Asia juga lebih baik dan terus tumbuh, aliran modal yang masuk bisa dibilang mengalir terus. Namun apakah negara Asia sudah lulus tes? Jawabannya belum."Jika anda tanyakan apakah bakal ada krisis ekonomi lagi di Asia, jawabannya tidak, tapi jika anda bertanya lagi apakah Asia sudah lewat tes, jawabannya bisa tidak, kita belum lulus tes," ujar Executive Assistant President of the Bank of China Dr Zhu Min seperti dilansir situs resmi Asia-Pacific Economi Cooperation, Sabtu (8/9/2007).Cadangan devisa negara-negara Asia memang meningkat, sehingga relatif aman dari krisis. Namun kebutuhan cadangan devisa mengalami perubahan dibanding 10 tahun yang lalu. Menurutnya, cadangan devisa kini bukan hanya untuk membayar selama 6 bulan impor, sekarang cadangan devisa itu kini tergerus untuk pembayaran utang yang jatuh tempo."Jika melangkah lebih jauh, anda harus bersiap-siap mengantisipasi aliran dana masuk yang bersifat jangka pendek kebanyakan kurang dari 1 tahun. Tapi ada lagi, yakni investasi asing di pasar modal. Kapan pun itu bisa keluar, anda harus siap-siap. Ini yang kami pelajari dari krisis 10 tahun lalu, di Korel, Filipina, Indonesia, Hongkong dan bahkan Jepang," ujarnya.Aliran modal masuk ke Asia pada tahun lalu mencapai US$ 511 miliar (gross), atau nettonya sebesar US$ 389 miliar, 3 kali lebih besar dari 10 tahun yang lalu. "Pada semester I tahun ini kita dapat US$ 320 miliar dan nettonya US$ 286 miliar, sangat kuat," ujarnya.Katika aliran modal menguat lanjut Zhu Min, negara Asia harus berhati, jika modal ini larinya ke sektor yang berhubungan dengan perdagangan maka akan aman, namun jika masuk ke sektor seperti properti, real estate, jika ekspornya mengalami penurunan, maka negara Asia akan sulit untuk membayar utang luar negeri itu.Masalah modal lainnya, adalah bahwa negara Asia lebih banyak menginvestasikan uangnya di luar kawasan ini. US$ 1,2 triliun diinvestasikan dalam instrumen jangka panjang di AS, dan Eropa. Hanya 10 persen saja atau US$ 120 miliar yang diinvestasikan di Asia.
(ddn/ddn)











































