OPEC Hadapi Dilema Besar
Senin, 10 Sep 2007 09:02 WIB
Wina - Para menteri energi anggota OPEC akan berkumpul di Wina, Austria pada Senin (10/9/2007) ini. Pertemuan kali ini akan menghadapi dilema yang berat ditengah terus melambungnya harga minyak mentah dunia mendekati rekor tertingginya. Tingginya harga minyak mentah dunia yang semakin mendekati level US$ 80 per barel akan menjadi tambahan tekanan pada perekonomian dunia, setelah mendapat serangan dari guncangan pasar finansial dunia. Namun OPEC tak bisa gegabah menambah produksi dalam rangka menahan gejolak harga akhir-akhir ini. Melemahnya perekonomian AS ---sebagai konsumen terbesar dunia---, menjadi pertimbangan tersendiri.Permintaan minyak dari AS sendiri diperkirakan melemah menyusul krisis subprime mortgage yang tengah melanda negara adikuasa tersebut. Menteri Energi Qatar, Abdullah bin Hamad al-Attiyah mengakui bahwa 12 negara anggota OPEC menghadapi dilema yang serius. Karena tambahan suplai justru akan berhadapan dengan melemahnya permintaan terutama dari AS."Bagaimana jika ada kenaikan (produksi) minyak dan tidak ada seorang pun yang membelinya," ujar al-Attiyah, seperti dikutip dari AFP. Pada tahun 1997, OPEC menaikkan produksi seiring terjadinya krisis finansial Asia. Namun pada tahun 1999, harga minyak dunia anjlok hingga ke US$ 10 per barel, akibat melemahnya permintaan dan ketakutan akan terjadinya resesi global.Al-Attiyah menilai OPEC tidak ingin kejadian itu terulang. Ia merasa nyaman jika produksi dipertahankan pada levelnya saat ini. OPEC sendiri saat ini menguasai sepertiga suplai minyak dunia."Kami tidak ingin perekonomian dunia tertarik oleh harga minyak. Kami tahu jika AS terkena 'demam', maka kami akan mulai 'batuk-batuk'," ujarnya.Pada akhir pekan lalu, harga minyak mentah dunia di New York menembus level US$ 78,77 per barel, atau tertinggi sejak 1 Agustus. Pertemuan OPEC akan berakhir pada Selasa, 11 September 2007 diharapkan akan mengambil keputusan soal produksi.
(qom/qom)











































