Inflasi Cina Membubung, Surplus Perdagangan Membengkak
Selasa, 11 Sep 2007 15:00 WIB
Beijing - Perekonomian Cina memang serba luar biasa. Surplus perdagangan terus meningkat, demikian pula inflasi yang terus membubung. Inflasi Agustus Cina bahkan menembus rekor tertingginya dalam 11 tahun.Tingginya inflasi itu terutama dipicu oleh kenaikan harga-harga makanan. Menurut Badan Pusat Statistik Cina, Indeks Harga Konsumen (IHK) naik 6,5% pada Agustus. Angka itu berarti tertinggi sejak Desember 1996, dan diatas target yang hanya 3%.Sementara data surplus perdagangan menembus rekor hingga US$ 24,97 miliar, atau yang tertinggi kedua sejak rekor surplus yang dicatat pada Juni lalu sebesar US$ 26,91 miliar. Lonjakan surplus perdagangan ini diperkirakan semakin memicu panasnya hubungan perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Pemerintah Cina diprediksi akan segera mengambil langkah cepat untuk meredam gejolak inflasi tersebut."Kami memperkirakan Bank Sentral akan merespons tingginya tekanan inflasi dengan kebijakan yang lebih ketat, termasuk dua kali kenaikan suku bunga (hingga akhir tahun)," ujar ekonom Goldman Sachs, Hong Liang seperti dikutip dari AFP, Selasa (11/9/2007).Selain itu, Bank Sentral Cina juga diperkirakan akan mengeluarkan aturan mengenai kenaikan cadangan yang harus disimpan oleh perbankan. Cina telah menaikan reserve ratio tujuh kali dalam tahun ini. Langkah itu ditujukan untuk meredam jumlah kredit dan mengurangi jumlah uang beredar di masyarakat. Perekonomian Cina sendiri saat ini belum juga menunjukkan tanda-tana pelemahan. Bahkan pada kuartal II-2007, Cina mencatat kenaikan pertumbuhan ekonomi sebesar 11,9% dan 11,5% pada semester I-2007.
(qom/ir)











































