Harga Minyak Kembali Catat Rekor
Jumat, 14 Sep 2007 07:48 WIB
New York - Harga minyak masih terus meroket dan kini bertahan di level US$ 80 per barel. Lonjakan harga minyak dipicu oleh munculnya badai tropis Humberto yang bergerak melintasi Texas dan Louisiana dan mengancam pusat produksi minyak AS.Jika itu terjadi, maka suplai di AS yang merupakan negara konsumen terbesar akan terancam. Pada pialang khawatir apa yang terjadi saat badai Katrina akan kembali terulang.Pada perdagangan Kamis (13/9/2007), kontrak utama New York untuk minyak jenis light pengiriman Oktober kembali naik 18 sen hinga menciptakan rekor terbaru US$ 80,09 per barel. Harga minyak secara intraday sempat menyentuh US$ 80,20 per barel.Sementara di London, harga minyak jenis Brent untuk pengiriman Oktober sempat melonjak hingga US$ 77,86 per barel, sebelum akhirnya ditutup pada uS$ 77,40 per barel atau turun 28 sen. Minyak Brent sempat mencapai rekor tertingginya pada US$ 78,40 per barel pada tahun 2006. Harga minyak sudah mulai melonjak pada Rabu (12/9/2007) setelah munculnya berita bahwa cadangan minyak mentah AS turun melebihi ekspektasi para pialang. Hal itu semakin menambah keprihatinan soal pasokan minyak dunia, meski OPEC telah memutuskan penambahan kuota produksi 500 ribu barel per hari. Namun pada perdagangan kemarin, harga minyak langsung melonjak menembus level tertingginya sepanjang sejarah setelah sejumlah kilang minyak AS ditutup karena masuk dalam jalur yang akan dilewati badai Humberto. Namun Humberto kini sudah diturunkan peringkatnya menjadi badai tropis."Sebenarnya, dalam jangka pendak kami melihat gejolak pasar yang berhubungan dengan munculnya badai. Paling tidak ada dua kilang yang diputus aliran listriknya dan ditutup karena munculnya badai itu," jelas analis dari Citigroup, Tim Evans seperti dikutip dari AFP, Jumat (14/9/2007). Penutupan kilang-kilang itu menimbulkan kekhawatiran ditengah ketatnya suplai di pasar. Padahal permintaan kini sedang meningkat. Langkah penambahan produksi OPEC pun dinilai sia-sia."Langkah OPEC gagal untuk meredam kekhawatiran pasar tentang ketatnya suplai minyak mentah. Investor masih terus berharap ada potensi penurunan pada kuartal keempat," ujar analis dari Sucden, Michael Davies.
(qom/qom)











































