Dirjen Peternakan Diganti, MBM Langka di Pasaran
Selasa, 18 Sep 2007 16:25 WIB
Jakarta - Dicopotnya Dirjen Peternakan Deptan Mathur Riady menyebabkan izin impor Meat Bone Meal (MBM) menumpuk. Akibatnya, timbul kelangkaan MBM di pasaran.Direktur Pusat Informasi Pasar (Pinsar) Unggas, Hartono mengatakan, saat ini mencari MBM di pasaran cukup susah."Apalagi dengan digantinya Dirjen Peternakan, izin impor menumpuk dalam minggu terakhir ini. Terjadi kelangkaan MBM di pasaran yang sudah terjadi," kata Hartono saat mengikuti telekonferensi di Gedung Bulog, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (18/9/2007).Akibat kesulitan MBM tersebut, maka harga pakan jadi pun terus naik hingga di atas Rp 500 per kg. Otomotis biaya produksi di tingkat petani juga ikut naik. Dalam kesempatan itu, Hartono juga memrediksi pada minggu depan ada pergantian subtitusi konsumsi dari daging sapi dan ikan ke ayam. Sehingga ada permintaan mendadak sesaat. "Untuk menyiasati permintaan yang tinggi saat itu, panen diundur 3 hari dari biasanya 1,5 kg per ekor menjadi 1,8 kg per ekor untuk menambah stok di pasar," jelasnya.Menurutnya, seminggu menjelang puasa, harga ayam dan telur memang ada gejala kenaikan yang disebabkan kenaikan harga bahan baku seperti jagung yang cukup signifikan.Misalnya di Sulsel harga jagung naik dari Rp 1.550 per kg menjadi Rp 2.100 per kg. Di Lampung, harga jagung naik dari Rp 1.600 menjadi Rp 2.400 per kg. Kondisi tersebut diperparah dengan kelangkaan MBM di pasaran.Lonjakan harga, menurut Hartono, juga disebabkan karena panjangnya rantai untuk mengirim ayam dan telur. Ia mencontohkan, dari sentra produksi di Blitar, sebenarnya harga masih cukup murah yakni Rp 8.100/kg untuk telur, di Salatiga ayam potong RP 7.800/kg. Namun sampai Jakarta, barang tersebut harus lewat agen kecil, agen besar baru kirim ke Jakarta. Ia juga mengkhawatirkan tingginya suplai, sehingga harga telur dan ayam semakin anjlok. Untuk itu, ia minta pemerintah ikut campur tangan mengendalikan harga ayam dan telur."Perkiraan kami akan terjadi over suplai sekitar 5% untuk minggu ini sehingga harga seluruh Jawa akan tertekan turun baik telur maupun ayam," ujarnya.
(qom/ir)











































