RI Kendalikan Penuh Dampak Subprime Mortgage

RI Kendalikan Penuh Dampak Subprime Mortgage

- detikFinance
Kamis, 20 Sep 2007 08:33 WIB
Jakarta - Kondisi makro ekonomi Indonesia tetap aman setelah sempat tepengaruh oleh gejolak yang terjadi di pasar keuangan akibat krisis subprime mortgage yang terjadi di AS. Demikian diungkapkan oleh Menko Perekonomian Boediono usai rapat koordinasi menteri bidang ekonomi dengan Bank Indonesia, di Gedung BI, Jalan Thamrin, Jakarta, Rabu (19/9/2007) malam. "Dari hasil pengamatan kami, nampaknya dampak subprime mortgage ke kita bisa dikendalikan sampai saat ini, tentunya kita tidak tahu ke depan semoga tidak ada ekornya, ini yang belum kita tahu, tapi selama kita bisa pantau dengan data-data yang ada maka nampaknya dampaknya bisa kita kendalikan," paparnya. Boediono juga menjelaskan, dari hasil pantauan pemerintah dan BI dalam rapat koordinasi yang dilakukan tersebut, pemerintah menjadi semakin optimis bahwa target inflasi dalam APBN tahun 2007 akan dapat dicapai. "Tadi juga (dalam rakor) disampaikan masalah prospek inflasi ke depan, jadi artinya angka yang kita tentukan itu (dalam APBN) semoga bisa kita capai, demikian juga dengan pertumbuhan ekonomi, tapi memang ada hal-hal yang memang perlu kita perbaiki dan kita percepat," tandasnya. Hal-hal yang perlu dipercepat untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi 2007 sesuai target menurut Boediono adalah antara lain tentang masalah penggunaan dana APBN yang masih cukup rendah, sehingga harus semakin dipercepat penyerapannya menjelang akhir tahun. Boediono juga menilai bahwa penyerapan anggaran APBN 2007 masih cukup rencah pada semester I 2007. "Kita bisa tingkatkan lagi subsidi tapi masih dinegosiasikan untuk ditingkatkan lagi terutama untuk belanja modal, untuk infrastruktur, itu akan kita percepat lagi, tapi untuk memperbaiki pertumbuhan, supaya lebih baik lagi, ya kita percepat penyerapan dalam bulan-bulan ke depan," tuturnya. Jadi menurut Boediono, pemerintah akan makin memperkuat arah kebijakan makro, moneter dan fiskal sehingga indikator ekonomi yang ditetapkan dapat dicapai. "Kita akan pertahankan, kita akan mantapkan langkah kebijakan," tambahnya. Sementara mengenai kenaikkan harga minyal yang sudah mencapai level US$ 81/barrel, Boediono mengatakan pemerintah juga terus memonitor hal tersebut. "Harga minyak terhadap APBN dihitung-hitung penerimaannya akan meningkat tapi pengeluaran untuk subsidikan kalo dihitung-hitung itu mungkin kurang lebih seimbang jadi artinya netto terhadap defisit tidak terlalu besar," jelasnya (dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads