LP3ES: Potential Loss Subsidi BBM Rp 6 T
Kamis, 20 Sep 2007 15:10 WIB
Jakarta - Kajian lembaga penelitian, pendidikan dan penerangan ekonomi dan sosial (LP3ES) menemukan sistem penghitungan subsidi BBM yang digunakan pemerintah merugikan. Diperkirakan ada potential lost sekitar Rp 6 triliun per tahunnya.Hal tersebut terjadi karena pemerintah menggunakan patokan harga BBM oktan 92 untuk subsidi BBM oktan 88 (premium). Tak hanya itu, pemerintah juga menggunakan patokan harga avtur untuk menghitung subsidi minyak tanah.Demikian hasil kajian LP3ES yang dipaparkan peneliti LP3ES Pri Agung Rakhmanto dalam konferensi pers di kantor LP3ES di Jalan S Parman, Jakarta, Kamis (20/9/2007)."Tahun lalu perhitungan kami selisihnya sekitar Rp 6 triliun," kata Pri.Selain itu, pemerintah menggunakan patokan harga MOPS untuk menghitung subsidi. Tapi ternyata, tidak ada patokan MOPS untuk BBM oktan 88 (premium) dan minyak tanah. Padahal selisih harga BBM oktan 92 dengan BBM oktan 88 sekitar 10 persen, sedangkan perbedaan harga avtur dengan minyak tanah mencapai 10 hingga 15 persen.Menurut Pri, dari selisih itulah pemerintah tidak terlalu pusing dengan kenaikan harga minyak yang menembus US$ 81 per barel. Karena masih ada selisih atau penyimpanan yang bisa dilakukan selama ini.Namun pemerintah baru akan merasa pusing ketika harga minyak menembus US$ 90-95 per barel."Kalau saya jadi pemerintah, pada saat harga tersebut formulasi penetapan subsidi harus diubah. Pemerintah harus merubah formulasi penetapan subsidi, tidak lagi menggunakan MOPS tapi memakai biaya pokok produksi." ujarnya.
(lih/arn)











































