Bongkar Muat di Pelabuhan Molor hingga 6 Hari, Pengusaha Mumet

Bongkar Muat di Pelabuhan Molor hingga 6 Hari, Pengusaha Mumet

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Sabtu, 31 Jan 2026 14:42 WIB
Bongkar Muat di Pelabuhan Molor hingga 6 Hari, Pengusaha Mumet
Ilustrasi.Foto: ANTARA FOTO/Didik Suhartono
Jakarta -

Pengusaha pelayaran mengeluhkan bongkar muat kapal di sejumlah pelabuhan molor. Hal ini memicu mahalnya biaya logistik yang mesti ditanggung.

Pengusaha mengungkapkan sejumlah kapal di beberapa pelabuhan harus menunggu 5-6 hari untuk dapat bersandar di pelabuhan dan melakukan bongkar muat barang.

Lambatnya layanan bongkar muat di pelabuhan diduga akibat peralatan yang dan sering rusak sehingga produktivitasnya terjun bebas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur Sebastian Wibisono mengatakan di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya proses kapal sandar dan bongkar muat mengalami keterlambatan.

Biasanya proses bongkar muat cuma butuh 3 hari, sekarang bisa sampai 6 hari. Sebastian mengungkapkan alat bongkar muat yang tak kunjung dilakukan peremajaan di Terminal Peti Kemas (TPK) Nilam dan TPK Mirah di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya jadi biang kerok keterlambatan tersebut.

ADVERTISEMENT

"Saya melihat beberapa kapal menunggu pembongkaran lebih lama. Kalau biasanya maksimal 3 hari, sekarang bisa sampai 6 hari," papar Sebastian dalam keterangan tertulis Sabtu (31/1/2026).

Menurutnya PT Pelindo mesti segera melakukan peremajaan alat bongkar muat di berbagai terminal karena beberapa alat sudah tua sehingga proses bongkar muat menjadi lebih lama.

Idealnya jumlah Container Processing Area (CPA) per jam 30-40 kontainer, sekarang hanya mampu menangani 10 kontainer. Dia menilai melalui peremajaan alat, seharusnya proses bongkar muat bisa lebih cepat.

Dampak Bongkar Muat Molor

Akibat molornya proses bongkar muat, pengiriman barang juga terkendala. Sebab hal ini menimbulkan terjadinya kelangkaan kontainer atau shortage di beberapa pelabuhan.

Sementara perusahaan-perusahaan forwarder yang sudah memiliki jadwal pengiriman barang yang sudah pasti, menjadi molor pengangkutannya.

Biasanya rata-rata setiap hari pihaknya bisa mendapatkan 20-40 kontainer, sekarang hanya dapat 10 kontainer. Dengan 40 kontainer pihaknya dapat mengirimkan sebanyak 1.000 ton per hari. Kini, dengan hanya dapat 10 kontainer, maka hanya 250 ton yang bisa segera terkirim.

"Saya mengirim bahan baku pupuk ke Sampit, sejak Desember sudah sulit dapatkan kontainer kosong. Pengiriman baru bisa dilakukan Januari 2026, itupun hanya sebagian," terang Sebastian.

Di sisi lain, Ketua DPC Indonesian National Shipowners Association (INSA) Surabaya Steven Lesawengen mengatakan keterlambatan penanganan bongkar muat kapal juga terjadi di TPK Berlian, Tanjung Perak Surabaya.

"Keterlambatan penanganan bongkar muat kapal di TPK Berlian Pelabuhan Tanjung Perak karena alat belum siap," kata Steven.

Sejauh ini dari laporan ALFI dan INSA, masalah lambatnya bongkar muat sudah diadukan di 3 pelabuhan. Mulai dari wilayah Merauke, Belawan hingga di Surabaya.

(hal/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads