'Lomba' Razia Makanan Disesalkan, Bisa Picu Kenaikan Harga

'Lomba' Razia Makanan Disesalkan, Bisa Picu Kenaikan Harga

- detikFinance
Selasa, 25 Sep 2007 12:00 WIB
Jakarta - Razia-razia makanan sedang gencar dilakukan. Para peritel pun takut menyimpan stok dalam jumlah besar. Dampaknya, harga makanan bisa naik.Menurut Ketua GAPMI (Gabungan Asosiasi Makanan dan Minuman) Thomas Dharmawan menjelaskan, stok bahan makanan menjelang lebaran kali ini sedikit berkurang.Hal ini disebabkan karena para peritel agak terganggu oleh munculnya isu-isu penyakit sapi gila, penyakit mulut dan kuku, bahan pengawet dan formalin"Jika (stok) berkurang maka saya akan perkirakan harga akan mengalami kenaikan, karena ini tidak kita inginkan karena industri makanan ingin menjual sebanyak-banyaknya. Nah, kalau di pasar diganggu operasi-operasi BPOM, Depkes, Dinkes dan lain-lain,itu akan membuat ritel takut menyetok banyak-banyak karena takut operasi," tuturnya.Hal itu disampaikan Thomas Demikian ditemui di sela pertemuan antara pemerintah dan berbagai asosiasi, duta besar dan Kadin di Ruang Graha Sawala, Departemen Keuangan, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (25/9/2007).Thomas menambahkan, seharusnya barang-barang yang dinilai ilegal tersebut sudah dicegah sejak di pelabuhan, bukan di toko-toko. "Kalau di toko, kasihan orang kecil berdagang sebagai pengusaha saya mendukung barang-barang itu harus legal, kalau di operasi terus pengusaha akan rugi, karena takut menyetok," imbuhnya. Menurut Thomas, pemerintah kurang tegas dalam menerapkan aturan pemberian izin peredaran makanan dan minuman. "Kalau suatu badan sudah memberi izin, seharusnya dia bertahan jangan sampai besok berubah lagi. Saya kira ini menjadi masalah baru di Indonesia," tambahnya. Menko Perekonomian juga diminta untuk tegas dalam mengkoordinasi berbagai institusi sampai ke daerah. "Karena daerah ini sekarang ini berlomba-lomba melakukan operasi, ada yang borak, formalin, borak,sapi gila, PMK, itu akan menyebabkan disaster baru jika tidak ditangani," ujarnya. Permintaan produk makanan dan minuman menjelang lebaran ini menurut Thomas sudah mulai naik, terutama minuman sejenis sirup, makanan kering yang naik sekitar 20 persen dari jumlah produksi. Beberapa komoditas juga mengalami kenaikan harga seperti tepung terigu naik 4,5 persen pada September dan akan naik lagi pada Oktober untuk mengejar kenaikan harga-harga produk lain. Demikian pula minyak goreng yang hingga kini masih tinggi harganya.Gula dan beras juga naik karena pemerintah menaikkan bea masuk beras dari Rp 450 menjadi Rp 550 per kg."Dengan beras naik secara otomatis bahan makanan yang dari beras juga naik, kita mempertanyakan kenapa dinaikkan sekarang bukan nanti saat panen," pungkasnya. (dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads