70% Kedelai buat Tahu dan Tempe RI Masih Impor

70% Kedelai buat Tahu dan Tempe RI Masih Impor

Aulia Damayanti - detikFinance
Minggu, 08 Feb 2026 07:46 WIB
70% Kedelai buat Tahu dan Tempe RI Masih Impor
Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto)/Foto: Aulia Damayanti/detikcom
Jakarta -

Kebutuhan kedelai dalam negeri masih didominasi dari impor. Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto) menyebut 70% kebutuhan kedelai masih dipenuhi dari impor.

Titiek menyebut kondisi impor kedelai ini seharusnya membuat Indonesia malu. Karena salah satu makanan pokok Indonesia tempe dan tahu berasal dari kedelai, tetapi bahan baku itu didapat dari impor.

"Kita ini pemakan tempe tahu, tapi kedelainya impor lebih dari 70%, kedelainya impor. Ini harus kita genjot mungkin dari TNI Angkatan Darat kita harus mulai Pak untuk nanam kedelai ini. Kita pemakan tempe ini bahan bakunya harus impor, ini malu kita ya," kata dia dalam Panen Fest 2026, di Taman Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Sabtu (7/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia meminta pemerintah agar cepat melakukan perubahan agar kedelai tidak lagi impor. Titiek mengatakan, diharapkan tahun depan kedelai bisa swasembada, seperti beras dan jagung.

ADVERTISEMENT

"Jadi, kemarin sudah swasembada beras dan jagung pada akhir tahun kemarin. Nah, ke depan kita harapkan untuk swasembada gula, garam, kedelai, bawang putih, aneka bawang-bawang itu yang semua impor-impor, jadi tidak ada lagi impor-impor bahan-bahan pangan ini," jelasnya.

Untuk meningkatkan produksi dalam negeri, Titiek berharap dapat menggunakan bibit dari dalam negeri. Jadi, demi mencapai cita-cita swasembada pangan, Titiek menyebut tetap harus melibatkan banyak akademisi.

"Dan kita banyak akademisi-akademisi dari universitas-universitas yang bisa menemukan, sudah menemukan bibit kedelai yang bagus. Tidak perlu kita bibit pun impor, yang ada lokal saja yang karena sesuai dengan iklim daripada Indonesia ini," pungkasnya.

Tidak sekali Titiek menyinggung soal Indonesia yang masih impor kedelai. Sebelumnya, ia pernah menyentil Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman terkait Indonesia yang masih banyak mengimpor kedelai.

Kebutuhan kedelai dalam negeri setahun mencapai 2,9 juta ton. Namun, produksi dalam negeri hanya 300 ribu hingga 400 ribu ton.

"Kita bangsa pemakan tahu tempe, mustinya kedelai jadi prioritas. Kebutuhan kedelai 2,9 juta ton per tahun, produksi kita cuma 300 ribu, 350 ribu, 400 ribu ton. Impor kita 2,6 juta ton, banyak sekali. Kalau dirupiahin berapa tuh? Banyak sekali, triliunan ya pak," kata dia dalam rapat kerja dengan Kementan di Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, Senin (24/11/2025).

Ia meminta agar program peningkatan produksi kedelai kembali dihidupkan. Sebelumnya, pemerintah melalui Perum Bulog memiliki program peningkatan produksi tiga komoditas utama yakni Padi, Jagung, dan Kedelai (Pajale)

"Dulu bapak punya program Pajale, coba dihidupkan kembali, supaya ke depan jangan impor 2,6 juta (ton). Itu malu pak. Kita makan tempe tahu, impor kedelai segitu," pungkasnya.

(ada/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads