RI Deflasi di Januari, Baik atau Sinyal Bahaya?

RI Deflasi di Januari, Baik atau Sinyal Bahaya?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 09 Feb 2026 14:39 WIB
RI Deflasi di Januari, Baik atau Sinyal Bahaya?
Foto: freepik/Freepik
Jakarta -

Indonesia mengalami deflasi secara bulanan pada Januari 2026. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), deflasi Januari 2026 tercatat sebesar 0,15% dari Desember 2025.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian memaparkan deflasi terjadi karena transaksi di masyarakat kembali normal pasca kenaikan pesat yang terjadi saat puncak liburan dan hari raya di Desember 2025.

"Kita harus ingat di bulan Desember itu ada peristiwa Natal dan Tahun Baru. Ada pesta, ada mobilitas, masyarakat pindah pulang kampung, liburan, itu membuat harga-harga Desember naik. Tapi di bulan Januari, dia menjadi turun," ujar Tito dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi, Senin (9/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baginya, hal ini merupakan berita bagus karena gejolak harga barang dan jasa tetap terkendali usai musim liburan. Kelangkaan atau kenaikan barang tidak terjadi di tengah masyarakat.

ADVERTISEMENT

"Apakah ini berita bagus atau berita buruk? Good news. Berita bagus. Artinya apa? Barang dan jasa terkendali," ungkap Tito.

Menurutnya, banyak pihak yang kaget melihat data inflasi tahunan Januari 2026 yang mencapai 3,55% karena seakan-akan ada kenaikan harga di bulan Januari. Padahal data tersebut menunjukkan perbandingan harga di Januari tahun 2026 dengan Januari 2025.

Menurutnya, secara riil harga-harga di tengah masyarakat mengalami penurunan di bulan Januari karena dilihat dari data secara bulanan.

"Jangan khawatir dengan angka 3,55% year on year. Karena menggambarkan kenaikan yang sebenarnya adalah M to M. Month to month. Desember ke Januari," lanjut Tito.

Tito mencontohkan harga-harga dalam kategori makanan, minuman, dan tembakau misalnya. Kategori ini mengambil andil penurunan harga atau deflasi hinhga 0,30% dari deflasi bulanan mengapa 0,15%.

"Kita melihat di sini angkanya, makanan, minuman, tembakau, atau yang disebutkan volatile item, barang yang bergejolak, karena tergantung supply demand pasar, itu mengalami deflasi minus 0,30%. Dan ini menjadi penyumbang tertinggi. Terjadinya penurunan inflasi dari bulan ke bulan," papar Tito.

"Jadi harga barang jasa itu turun, yaitu menyumbang minus 0,30%," tambahnya menjelaskan.

Inflasi atau kenaikan harga tertinggi pada secara bulanan di Januari 2026 cuma terjadi pada kategori perawatan pribadi dan jasa lainnya yang memberikan andil inflasi sebesar 0,16%. Menurutnya hal ini terjadi karena adanya kenaikan harga pada pembelian perhiasan.

Harga perhiasan naik karena adanya kenaikan harga emas yang dipicu gejolak-gejolak di dunia. Emas dipandang sebagai cadangan paling aman baik bagi devisa sebuah negara maupun cadangan bagi orang perseorangan.

"Terjadi kenaikan adalah pada perawatan pribadi dan jasa lainnya. Ini karena apa? Emas. Kenaikan harga emas. Semua terjadi karena harga dunia," sebut Tito.

(acd/acd)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads