Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengungkapkan, pemerintah menargetkan ekonomi pada kuartal I-2026 bisa tumbuh ke level 5,6% year on year (yoy). Angka ini sedikit lebih besar dari target titik acuan atau baseline yang awalnya dipatok 5,5% pada tiga bulan pertama tahun ini.
Menurutnya, strategi utama yang akan dilakukan adalah mempercepat belanja pemerintah di kuartal I ini. Hal ini menjadi penting untuk mendongkrak pertumbuhan awal tahun mengingat pada kuartal I-2025 tahun lalu hanya tumbuh 4,87% imbas banyak tertahannya belanja pemerintah.
"Kuartal I baseline kita di bidang keuangan itu 5,5%. Kita akan dorong ke 5,6% dengan beberapa pengeluaran yang memang bisa dilakukan di kuartal I ini," kata Juda saat ditemui dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026, Jakarta Pusat, Selasa (10/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Juda mengatakan salah satu pengeluaran yang akan dipercepat pemerintah ialah belanja bantuan sosial alias bansos hingga berbagai jenis insentif. Hal ini dimaksudkan untuk mendukung konsumsi masyarakat.
"Itu tetap dilakukan. Semua, kan ada beberapa program perlinsos ya, yang bisa kita lakukan di kuartal I, ya kita lakukan segera," ungkapnya.
"Artinya dari baseline 5,5% ke 5,6% berarti kan tambahan 0,1%. Jadi akselerasinya, additional tambahan pertumbuhannya, tambahan dari 5,5% ke 5,6% kan berarti 0,1%," terang Juda lagi.
Sebagai informasi sebelumnya Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah tengah berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi melalui konsumsi di kuartal I 2026. Selain itu, ia juga berupaya memperbaiki daya beli dengan tidak mengerek tarif pajak.
"Pajak belum akan saya naikkan juga. Karena kita kan memperbaiki daya beli juga, artinya tidak memperburuk daya beli. Karena saya lihat, walaupun 5,4 di tiga sembilan (5,39%), belum cukup kuat untuk mengalami kenaikan pajak yang terlalu signifikan," jelas Purbaya saat ditemui wartawan di kawasan Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (5/2/2026).
Saat itu Purbaya juga memastikan belanja kementerian/lembaga tepat waktu di awal tahun. Selain itu, perbaikan daya beli juga dilakukan melalui insentif di bulan Ramadan yang masuk di kuartal I tahun ini.
"Nanti untuk triwulan pertama, nanti kan ada bulan puasa, lebaran, dan segala macam, insentif di bulan itu akan kita berikan juga sesuai dengan perintah presiden. Jadi di triwulan pertama ini akan kita dorong pertumbuhan lebih cepat dari konsumsi juga utamanya," jelasnya.
Lihat juga Video BPS: Ekonomi Indonesia Sepanjang 2025 Tumbuh 5,11%











































