Aliran PMA Bisa Mencapai US$ 17,6 Miliar Tahun 2007
Kamis, 27 Sep 2007 13:22 WIB
Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai perbaikan iklim investasi yang dilakukan pemerintah, serta banyaknya proyek infrastruktur yang ditawarkan, akan mendorong kenaikan arus masuk berjangka panjang berupa Penanaman Modal Asing (PMA).Hal tersebut disampaikan Direktur Direktorat Statistik Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Triyono Widodo dalam konfrensi pers mengenai Laporan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) triwulan II-2007, di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta (27/9/2007)."Di luar pembayaran utang luar negeri perusahaan-perusahaan PMA dan cost recovery perusahaan-perusahaan migas sebesar US$ 11,5 miliar, arus masuk PMA diperkirakan mencapai US$ 17,6 miliar atau lebih tinggi dari US$ 14,8 miliar di 2006," tuturnya.Sejalan dengan kondisi likuiditas internasional yang masih berlimpah dan kondisi makroekonomi di dalam negeri yang stabil, arus modal portofolio dari sisi kewajiban atau liabilities diperkirakan mencapai US$ 7,5 miliar, lebih tinggi daripada tahun 2006 yang sebesar US$ 6,1 miliar. "Perkiraan tersebut lebih rendah daripada perkiraan semula terkait dengan penurunan perkiraan arus modal portofolio akibat gejolak pasar surat utang subprime mortgage di AS," jelasnya. Mulai membaiknya iklim investasi menyebabkan transaksi modal sisi liabilities diperkirakan akan mencatat kenaikan surplus dari US$ 9,4 miliar di 2006 menjadi US$ 11,5 miliar di 2007.BI memprediksi Neraca Pembayaran Indonesia pada tahun 2007 ini akan mengalami surplus US$ 11,5 miliar sehingga cadangan devisa diperkirakan meningkat menjadi US$ 54,4 miliar hingga akhir 2007 (setara 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah).Namun salah satu komponen dalam neraca pembayaran yakni neraca jas masih mengalami defisit. Angkanya malah membengkak menjadi US$ 10,9 miliar di 2007 dari US$ 10,1 miliar pada tahun 2006. Hal ini terjadi karena meningkatnya pengeluaran jasa angkutan barang impor. "Sementara itu, defisit neraca pendapatan diperkirakan mengalami peningkatan dari US$ 14,5 miliar (2006) menjadi US$ 16 miliar pada 2007, sedangkan transfer berjalan diperkirakan tetap surplus stabil pada kisaran US$ 4,9 miliar pada 2007," papar Triyono.
(dnl/ddn)











































