Bulog Dapat Uang Ganti Rugi Rp 2 Miliar dari Thailand

Bulog Dapat Uang Ganti Rugi Rp 2 Miliar dari Thailand

- detikFinance
Jumat, 28 Sep 2007 09:24 WIB
Jakarta - Perum Bulog mendapatkan ganti rugi dari pemerintah Thailand setelah beras yang diimpor secara government to government sebanyak 64 ribu ton dari negara gajah putih itu tidak memenuhi standar."Kita telah mendapatkan gantinya dari pelanggaran kualitas sebesar US$ 200 ribu atau Rp 2 miliar. Mudah-mudahan kejadian ini tidak terulang kembali," harap Dirut Perum Bulog Mustafa Abubakar dikantornya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (27/9/2007) malam.Pemberian ganti rugi tersebut, menurut Mustafa, diberikan setelah Dirjen Perdagangan Luar Negeri Thailand mendatangani Bulog untuk meminta penjelasan. Dengan kerjasama ASEAN, Thailand akhirnya bersedia memberi ganti rugi. Bulog sebelumnya melayangkan protes kepada Thailand karena beras yang dikirim ke Indonesia tidak sesuai dengna standar. Namun Mustafa sebelumnya menyatakan, Bulog tidak mau minta penalti demi menjaga kesinambungan pasokan beras.Ganti rugi yang diberikan Thailand itu, menurut Mustafa, lebih besar dari permintaan yang diajukannya yakni Rp 1,4 miliar. Mustafa menambahkan, Pemerintah Thailand dan eksportir swasta Thailand yang mengekspor beras ke Indonesia sudah berjanji tidak akan mengulang lagi wanprestasi seperti ini. "Sehingga kita bersedia melakukan kontrak baru dengan perjanjian tidak ada lagi pelanggaran kualitas," tambahnya.Paceklik Mulai NovemberDalam kesempatan itu, Mustafa juga menjelaskan mengenai prediksi Deptan bahwa selama November hingga Januari akan masuk masa paceklik. Sucofindo memperkirakan beras di masyarakat dari periode itu hanya 5 juta ton, padahal setial bulannya membutuhkan 2,6 juta ton, sehingga ada kekurangan.Kekurangan itu akan ditutupi dari carry over bulan-bulan sebelum November. Sedangkan sisanya diharapkan ditutupi dari impor sebanyak 500-700 ribu ton. Jumlah tersebut merupakan bagian dari rencana impor beras sepanjang tahun 2007 sebanyak 1,5 juta ton. "Tapi saya harap on top 1,5 juta itu tidak perlu dilakukan, tapi untuk berjaga-jaga musim kemarau yang berkepanjangan, kita memerlukan standby impor dengan melakukan penambahan untuk mengamankan food security," jelasnya. Keputusan akhir impor, menurut Mustafa, tergantung kondisi akhir Oktober. Pemerintah dan Bulog akan mengambil keputusan pada awal November mengignat di musim gadu ini masih banyak beras yang masuk. (qom/ddn)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads