Luhut Sebut Pertumbuhan Ekonomi 5-6% Bukan Prestasi, Harus 8-9%!

Luhut Sebut Pertumbuhan Ekonomi 5-6% Bukan Prestasi, Harus 8-9%!

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Sabtu, 14 Feb 2026 05:55 WIB
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan
Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan.Foto: Andi Hidayat/detikcom
Jakarta -

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan kemampuan pemerintah untuk menaikkan laju pertumbuhan ekonomi di kisaran 5-6% bukan sebuah prestasi.

Sebab menurutnya Indonesia harus memiliki pertumbuhan jauh di atas itu, yakni 8-9%. Jika pertumbuhan ekonomi hingga 8% ini tak tercapai, Indonesia bisa tertahan sebagai negara berkembang alias masuk dalam middle income trap.

"Jadi kalau 5% menurut saya bukan prestasi atau sampai 6% tidak prestasi. Kami bermimpi 8-9% dalam beberapa tahun ke depan, dan kita harus bisa memelihara itu paling tidak dua dekade untuk kita bisa menjadi high income country dan kita tidak terperangkap dari middle income trap," ujar Luhut dalam diskusi Dinamika Ekonomi Global dan Nasional di Kantor DEN, Jakarta Pusat, Jumat (13/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita mau 6-7%, 8-9% sebenarnya, tapi ingat demografi bonus kita habis tahun 2041-2042. Kalau itu habis, kita sudah pasti di middle income trap. Jadi semua harus sadar demografi bonus itu sudah akan habis 2040-an. Ini satu titik atau garis yang harus kita perhatikan," sambungnya.

Luhut berpendapat pertumbuhan ekonomi dalam negeri masih bisa digenjot lebih tinggi salah satunya melalui peningkatan investasi.

ADVERTISEMENT

Sebab menurutnya peningkatan investasi secara signifikan meningkatkan penciptaan lapangan kerja baru, yang mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

"Investasi harus kita tambah, karena APBN hanya 15-16% terhadap pertumbuhan ekonomi dampaknya. Sisanya 86% atau berapa persen itu tadi dari investasi. Jadi investor harus kita terima dengan karpet merah," kata Luhut.

Dalam hal ini, Luhut mengatakan perbaikan pasar modal bisa menjadi langkah pertama untuk menarik minat investor, khususnya para pemilik modal asing. Sebab pasar modal yang baik dapat menjadi petunjuk penting bagi para investor bahwa pasar investasi Indonesia secara keseluruhan baik dan bisa dipercaya.

"Kita belajar dari India bagaimana pasar modal di-reform, di-restructuring, itu mempunyai dampak 9 kali investasi yang masuk ke India," jelasnya.

Ia menegaskan jika perbaikan ini berjalan dengan baik, Luhut sangat yakin Indonesia akan semakin dilirik para investor. Baik mereka yang berinvestasi melalui pasar modal maupun mereka yang menanamkan modalnya langsung di Tanah Air.

"Ini kalau kita lihat ketidakpastian global bermasalah, tapi Indonesia semakin solid, pertumbuhan ekonomi tadi buat saya kalau 5,5% tuh ya mudah lah itu. Tapi kita harus lebih dari itu," tegas Luhut.

(igo/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads