Stok Ayam Melimpah, Kenaikan Harga Dipicu Masalah Rantai Distribusi

Stok Ayam Melimpah, Kenaikan Harga Dipicu Masalah Rantai Distribusi

Andi Hidayat - detikFinance
Sabtu, 14 Feb 2026 20:45 WIB
Penjual daging ayam di Pasar Bulu, Kecamatn Semarang Selatan, Kota Semarang, Minggu (21/9/2025).
Ilustrasi daging ayam.Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Jakarta -

Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR) menepis kenaikan harga daging ayam di sejumlah pasar tradisional. Hingga saat ini, produksi di tingkat peternak masih dalam kondisi stabil tanpa kendala.

Ketua Umum PINSAR Singgih Januratmoko mengatakan saat ini stok daging ayam melimpah. Ketersediaan ayam di tingkat peternak juga mencukupi kebutuhan nasional.

"Kami menjamin stok ayam di kandang melimpah. Ketersediaan stok ayam di tingkat peternak dalam kondisi yang sangat mencukupi. Produksi berjalan normal dan mampu memenuhi permintaan pasar tanpa adanya gangguan," ungkap Singgih dalam keterangan tertulis, Sabtu (14/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wakil Ketua Komisi VIII DPR ini menegaskan tidak ada kekurangan stok maupun gangguan produksi yang dapat memicu kelangkaan. Selain itu, peternak juga patuh pada regulasi Badan Pangan Nasional (Bapanas).

Ketetapan harga jual di tingkat produsen juga masih sejalan dengan Peraturan Badan Pangan Nasional (Perbadan) Nomor 6 Tahun 2024. Untuk wilayah Pulau Jawa, terang Singgih, harga ayam hidup ukuran 1,8 kg ke atas saat ini masih berada dalam rentang harga acuan tersebut.

ADVERTISEMENT

"Berdasarkan aturan tersebut, Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat peternak ditetapkan sebesar Rp 25.000 per kilogram," jelas Singgih.

Masalah Distribusi

Dia menambahkan, persoalan justru terjadi pada jalur distribusi, yang berimplikasi pada kenaikan harga ayam di pasar ritel.

Namun begitu, ia mengimbau seluruh pihak menjaga transparansi harga dan stabilitas distribusi dari hulu ke hilir untuk melindungi peternak dari kerugian serta menjaga daya beli masyarakat.

"Apabila terjadi kenaikan harga di tingkat konsumen yang melebihi harga acuan, hal tersebut bukan disebabkan oleh kekurangan stok di kandang. Kami melihat adanya potensi persoalan pada mata rantai distribusi yang perlu menjadi perhatian bersama agar tidak merugikan peternak maupun masyarakat," tutup Singgih.

(ahi/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads