Kenaikan Harga BBM Turunkan Daya Saing Industri Baja
Jumat, 28 Sep 2007 16:28 WIB
Jakarta - Kenaikan harga BBM industri 5-6 persen pada bulan Oktober 2007 dipastikan akan terus menurunkan daya saing industri baja dalam negeri. Ketergantungan industri baja terhadap BBM masih sangat besar. Hal tersebut disampaikan Direktur Industri Logam Departemen Perindustrian Putu Suryawirawan di Gedung Departemen Perindustrian, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (28/9/2007)."Kenaikan harga BBM industri akan berdampak besar pada industri baja, apabila kenaikan harga BBM sekitar 5-6 persen maka akan menurunkan margin keuntungan dan mempengaruhi cash flow," ujarnyaIndustri baja tidak bisa langsung mengalihkan begitu saja penggunaan BBM ke gas atau batu bara, sehingga mau tak mau industri baja dalam jangka pendek harus melakukan efisien besar-besaran.Efisiensi itu bisa dilakukan dengan cara memangkas biaya produksi seperti memotong jam kerja dan lembur serta penundaan rencana ekspansi.Kebutuhan BBM industri yang besar disisi lain juga membutuhkan pasokan listrik yang besar pula. Dalam perhitungan kasar pembuatan baja per ton membutuhkan listrik sekitar 500-600 KW per jam.Untuk itu Putu Suryawirawan meminta realisasi pembangunan program pembangkit 10.000 MW dipercepat.Kalau program itu gagal terealisasi bisa-bisa industri baja Indonesia dalam kondisi gawat terlebih lagi masih dibebani program Daya Max dari PLN, yang dikhususkan mengurangi listrik disaat beban puncak. "Ini akan menambah biaya dan terus menekan daya saing industri baja karena perusahaan baja itu beroperasi 24 jam ada yang sampai 3 shift itu yang membuat harga baja dalam negeri kita lebih mahal sedangkan baja impor menjadi lebh murah," ujarnya.Kontribusi biaya energi mencapai rata-rata 20 persen dari total biaya produksi industri baja.
(ddn/ir)











































