Kementerian Perdagangan (Kemendag) melepas ekspor 250.000 unit obat pereda nyeri dengan merek Tylenol senilai Rp 2,4 miliar ke Korea Selatan (Korsel). Pelepasan ekspor digelar di PT Integrated Healthcare Indonesia (IHI) di Jakarta, Jumat (13/2).
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Fajarini Puntodewi mengatakan ekspor produk obat-obatan Indonesia termasuk ke pasar Korsel menunjukkan daya saing industri dalam negeri semakin kokoh.
"Kami mengapresiasi PT IHI atas kerja keras dan kontribusinya terhadap kinerja ekspor produk farmasi Indonesia. Hari ini, 250.000 unit obat pereda nyeri dilepas ekspornya ke Korea Selatan. Ekspor produk farmasi seperti ini menjadi bukti nyata kemampuan produksi Indonesia dalam rantai pasok global," ujar Puntodewi dalam keterangan tertulis, Minggu (15/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Puntodewi berharap PT IHI terus memperkuat komitmen untuk mengembangkan kapasitas produksinya di Indonesia. Ia juga berharap terus ada transfer pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan daya saing produk farmasi Indonesia.
"Selain peningkatan volume produksi, penguatan transfer pengetahuan dan teknologi kepada pelaku industri domestik penting agar industri farmasi nasional semakin kompetitif," tutur Puntodewi.
PT IHI merupakan fasilitas produksi yang berada di bawah naungan PT Johnson & Johnson yang beroperasi di Indonesia. PT Johnson & Johnson merupakan bagian dari grup perusahaan kesehatan konsumen global dengan induk perusahaan Kenvue Inc yang berkantor pusat di Amerika Serikat.
Menurut Puntodewi, kehadiran Kenvue Inc di Indonesia menjadi sinyal positif atas meningkatnya kepercayaan investor global terhadap iklim usaha nasional. Sejalan dengan peluang tersebut, pemerintah terus mendorong penguatan kolaborasi bersama investor dan pelaku usaha.
"Upaya ini untuk memperbesar peran Indonesia dalam rantai pasok global. Upaya tersebut juga selaras dengan agenda hilirisasi sebagai strategi utama peningkatan nilai tambah dan daya saing nasional," jelasnya.
Puntodewi menyebut pelepasan ekspor kali ini menjadi momentum strategis bagi PT IHI dalam memperkuat komitmen ekspor, terutama setelah perusahaan ini mendapat fasilitas kawasan berikat dari Ditjen Bea Cukai pada 16 Desember 2025. Kawasan berikat memberikan kemudahan fiskal serta dukungan terhadap kelancaran produksi maupun ekspor.
"Fasilitas ini mendukung efisiensi biaya, penguatan daya saing produk, serta perluasan penetrasi pasar," imbuhnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja ekspor farmasi Indonesia lima tahun terakhir (2021-2025) menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan 7,63%. Pada 2025, Korsel tercatat sebagai tujuan ekspor produk farmasi Indonesia terbesar ketiga dengan nilai US$ 75,46 juta atau berkontribusi sebesar 10,24% terhadap total ekspor farmasi Indonesia ke dunia.
Di tingkat global, permintaan dunia untuk produk farmasi pada periode 2020-2024 menunjukkan tren positif sebesar 11,02%. Pendapatan industri farmasi dunia mencapai US$ 1,16 triliun pada 2024 dan diproyeksikan meningkat menjadi US$ 1,53 triliun pada 2030 dengan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 4,74%.
(acd/acd)










































