Ramalan Harga Emas Pekan Ini, Meroket atau Terjun Bebas?

Ramalan Harga Emas Pekan Ini, Meroket atau Terjun Bebas?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 23 Feb 2026 03:00 WIB
Petugas toko menampilkan emas batangan kepada pembeli di sebuah gerai penjualan emas di Kebayoran, Jakarta, Rabu (7/1/2026). Sejak awal 2026, permintaan emas di gerai setempat meningkat dengan rata-rata puluhan transaksi per hari, didominasi pembelia
Foto: Gilang Faturahman/detikfoto
Jakarta -

Penguatan harga emas diprediksi masih bakal terus terjadi pekan ini. Harga emas diprediksi akan menyentuh level tertingginya di harga Rp 3,15 juta per gram.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan harga emas dunia akan naik di resisten pertama pada level Rp 3,05 juta per gram. Hal ini bakal terjadi pada perdagangan hari Senin ini, setelah sebelumnya harga emas terparkir di Rp 3,01 juta per gram pada akhir pekan.

"Nah kalau seandainya harga emas dunia naik, resisten pertama itu di US$ 5.178, berarti logam mulianya per gram itu adalah Rp 3.052.000, itu mungkin terjadi di hari Senin," papar Ibrahim dalam keterangannya kepada awak media, ditulis Senin (23/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nah selama sepekan ini, kemungkinan harga emas akan terus bergerak menguat hingga level tertinggi di harga Rp 3,15 juta per gram.

ADVERTISEMENT

Sementara itu apabila tiba-tiba harga emas mengalami pelemahan, jumlahnya akan berada di level Rp 2,90-2,95 juta per gram.

Sederet sentimen mendorong harga emas menjadi fluktuatif. Paling besar adalah sentimen panasnya kondisi geopolitik di Timur Tengah, Amerika Serikat dan sekutunya telah siap berperang dengan Iran dengan mengerahkan kapal perang ke kawasan Timur Tengah.

Bila perang terjadi hal ini akan menganggu pasokan minyak mentah dunia dan memicu inflasi global. Hal ini lah yang mendorong harga emas menjadi meningkat.

"Pelaku pasar itu khawatir tentang potensi konflik yang terjadi di Timur Tengah," ujar Ibrahim.

Selain itu, di Amerika Serikat sendiri, kemungkinan rezim suku bunga tinggi akan berakhir. Bank sentral The Federal Reserve diprediksi bakal menurunkan suku bunga dan pada akhirnya membuat investor akan beralih ke instrumen emas sebagai daya lindung hartanya.

Harga emas, kata Ibrahim, juga bakal mengalami kenaikan yang terus menerus karena masalah teknis, tepatnya adalah langkanya cadangan emas di tambang-tambang seluruh dunia.

Menurutnya permintaan emas terus bertambah saat ini, sementara itu pasokannya makin berkurang. Dia mengatakan ada laporan yang menyebutkan 80 perusahaan tambang emas dunia akan kehabisan cadangannya beberapa tahun lagi.

"Kita melihat bahwa permintaan cukup tinggi, tapi barangnya sedikit, bahkan perusahaan-perusahaan tambang di dunia itu ada 80 perusahaan tambang. Kemungkinan besar tahun 2028 ini produksinya itu akan habis. Ini yang membuat kenaikan harga emas juga," ujar Ibrahim.

(acd/acd)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads