Ramadan Bikin Kurma Ludes: Sehari Keluar 4 Ton, Untungnya Tipis

Ramadan Bikin Kurma Ludes: Sehari Keluar 4 Ton, Untungnya Tipis

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Rabu, 25 Feb 2026 13:48 WIB
Kurma di Tanah Abang
Foto: Ignacio Geordy Oswaldo
Jakarta -

Suara pedagang bersahut-sahutan, klakson kendaraan, hingga pengamen yang berdendang di depan deretan toko menambah suasana riuh di Pasar Tanah Abang siang ini. Selain menjadi tujuan berburu pakaian, sejak dulu sentra grosir ini juga menjual oleh-oleh haji, termasuk kurma yang banyak diburu selama Ramadan.

Kondisi ramai pembeli ini seperti yang dirasakan Andi, pemilik jaringan toko Mekkah Group di Pasar Tanah Abang Blok F. Ia menuturkan permintaan kurma selama bulan Ramadan tahun ini meningkat drastis, terutama disebabkan lonjakan permintaan untuk program makan bergizi gratis (MBG).

"Kalau kenaikan itu kan terbagi banyak faktor. Pertama memang dari daya beli, dan ada juga tahun ini kan kurma buat MBG. Jadi daya serap itu banyaknya buat MBG," kata Andi kepada detikcom, Rabu (25/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Andi mengatakan kondisi ramai pembeli kurma ini biasanya sudah terjadi beberapa minggu sebelum Ramadan. Banyak di antara mereka membeli dalam jumlah besar alias borongan. Karena itu, selama minggu-minggu pertama puasa, pembelian kurma sudah sedikit melandai.

"Kalau masyarakat di awal kemarin, kalau ini sudah seminggu puasa memang biasanya ada penurunan. Cuma di awal kemarin memang antusiasme masyarakat masih bagus, disebabkan memang puasa kan orang beli kurma," tuturnya.

ADVERTISEMENT

Meski begitu, selama bulan Ramadan ini jaringan toko milik Andi bisa menjual sekitar 3-4 ton kurma setiap harinya. Jumlah ini di luar pesanan untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) alias dapur MBG.

"Kita hitung non-MBG ya. Kita kan toko ada 14 cabang dan saya kan bagian pembelanjaan. Sehari bisa keluar 3-4 ton sih untuk 14 toko," ucapnya.

Sementara untuk pesanan kurma dari dapur MBG, menurutnya sulit untuk diprediksi. Sebab setiap yayasan memiliki "waktunya" sendiri-sendiri untuk memesan kurma. Ada yang membeli saat sudah menerima pencairan dana dari Badan Gizi Nasional (BGN), ada juga yang sudah memesan lebih dulu, dan lain-lain.

Namun setiap kali menerima pesanan, Andi mengakui bisa langsung menjual sekitar 100 karton kurma ukuran 10 kilogram alias satu ton.

"Tergantung. Untuk MBG kan kita nggak cuma satu yang beli. Mereka ada yang berani ambil setelah instruksi, ada yang duit cair baru ambil, ada juga kalau dia habis baru ambil, kan nggak menentu. Kayak hari ini misalnya dapat orderan 100 karton, berarti 1 ton, itu kan dadakan," papar Andi.

"Biasanya kan kalau SPPG punya yayasan. Yayasan itu bagi-bagi SPPG mereka. Kalau setahu saya, 1 SPPG dengan kapasitas 2.000, itu sebulan perlunya 500 kilogram-an sih," jelasnya lagi.

Meski pesanan kurma jauh meningkat berkat program unggulan Presiden Prabowo Subianto ini, Andi mengaku besaran margin keuntungan yang bisa diambil justru turun drastis. Biasanya ia mematok keuntungan sekitar Rp 5.000 per kilogram kurma yang dijual. Khusus untuk pesanan MBG, ia hanya mematok sekitar Rp 2.000 per kilogram.

"Kenaikan omzet tapi pengurangan keuntungan. Soalnya kalau ke MBG kan kita sama pemerintah nggak boleh ambil untung besar. Soalnya SPPG pengambilan banyak, 100 karton. Untungnya Rp 20.000 per karton, kali saja itu, paling Rp 2 juta. Padahal kita modal besar, modal Rp 30 juta untung Rp 2 juta ya sudah lah," terangnya.

Kondisi ini membuat omzet penjualan kurma selama Ramadan tahun ini sekitar 50% lebih tinggi dibandingkan 2025 lalu alias sekitar 1,5 kali lipat.

"Kenaikan omzet ya cuma 1,5 kali lipat dari Ramadan tahun lalu, nggak yang mencolok banget. Cuma memang kelihatannya secara kuantitas banyak, barang keluar. Namanya untung tipis," pungkas Andi.

Simak juga Video 'Zikir sebagai "Mindfulness Islami":

(igo/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads