Menteri Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman buka-bukaan kesenjangan perdagangan antara Indonesia dan China.
Menurut Maman ada kesenjangan data (gap) yang sangat mencolok antara catatan ekspor dari China dengan angka impor yang tercatat di Indonesia.
Maman menunjukkan data perbandingan dari berbagai komoditas mulai dari hijab, pakaian bayi, hingga pakaian dalam. Data tersebut berasal dari UN Trade and Development yang menunjukkan adanya gap data dari 2013 hingga 2024.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam data yang dipaparkan Maman, pada 2024, contohnya impor hijab dan syal dengan HS 6214
"Dari hijab lihat ini, yang merah dari tahun 2013 sampai ke tahun 2024 tercatat seperti ini yang tercatat impor disini yang tercatat ekspor di Cina di atas semua. Berarti Pak kalau kita lihat dari tahun 2013 ada gap yang tidak tercatat, paling tinggi di 2018 2019 ini," ujar Maman dalam acara diskusi media di Kementerian UMKM, Jakarta, Jumat (27/2/2026).
Hal serupa juga terjadi pada impor produk pakaian bayi dengan HS 62111 senilai US$ 2,7 juta pada 2024. Sementara ekspor dari China pada periode yang sama US$ 4,2 juta.
Tak hanya itu, impor korset dan bra dengan HS 6212 senilai US$ 83,2 juta pada 2024. Sementara ekspor dari China senilai US$ 28,8 juta pada periode yang sama.
Lalu, impor pakaian dalam wanita dengan HS 6214 senilai US$ 48,5 juta pada 2024. Sementara ekspor dari China pada periode yang sama US$ 13,9 juta.
Impor celana dalam pria dengan HS 6107 senilai US$16,2 juta pada 2024. Sementara ekspor dari China senilai US$ 4,6 juta pada periode yang sama.
"Saya langsung ke underwear sama trendnya sama nih underwear nih, di sini sneakers. Kalau sepatu relatif tetap ada gap, tapi dia agak tipis tidak separah yang produk-produk lainnya, karena tadi perkembangan sneakers kita lokal-lokal bagi-bagi distro udah mulai mampu ngelawan gitu," jelas Maman.
Ia pun meminta agar tidak lagi saling menyalahkan antara pemerintah dan pelaku usaha. Maman mengajak semua pihak mengidentifikasi masalah yang sudah nyata di depan mata dan menyelesaikannya.
"Saya siap dikritik, pejabat publik harus siap dong. Tapi poinnya jangan saling menyalahkan. Sekarang masalahnya sudah ketahuan, yuk kita selesaikan. Kalau sudah ketahuan tapi saya nggak kerja juga, baru berarti saya nggak bener," tambah dia.
(rea/hns)










































