Peringkat Utang Indonesia Disorot Tajam S&P!

Peringkat Utang Indonesia Disorot Tajam S&P!

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Sabtu, 28 Feb 2026 07:00 WIB
Petugas Cash Center BNI menyusun tumpukan uang rupiah untuk didistribusikan ke berbagai bank di seluruh Indonesia dalam memenuhi kebutuhan uang tunai jelang Natal dan Tahun Baru. Kepala Kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua mengungkapk
Ilustrasi.Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

S&P Global Ratings menyoroti profil kredit Indonesia. Lembaga tersebut melihat potensi peringkat kredit Indonesia turun dalam waktu dekat.

S&P memperingatkan meningkatnya tekanan fiskal, khususnya biaya pembayaran utang yang lebih tinggi telah meningkatkan risiko ekonomi bagi Indonesia.

Dikutip dari Bloomberg, Jumat (27/2/2026), Rain Yin, analis kedaulatan di S&P Global Ratings menilai pembayaran bunga utang Indonesia sangat mungkin melebihi ambang batas utama 15% dari pendapatan pemerintah tahun lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jika tetap di atas ambang batas secara berkelanjutan, hal itu dapat memicu pandangan yang lebih negatif terhadap peringkat kredit Indonesia. Yin memaparkan hal tersebut dalam sebuah webinar tentang kawasan Asia Pasifik.

ADVERTISEMENT

S&P belum mengubah prospek pada peringkat kredit Indonesia di level BBB. Hanya saja, komentar Yin menunjukkan kekhawatiran yang meluas tentang posisi fiskal Indonesia.

Lembaga tersebut menyoroti rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara sebagai metrik kunci. Rasio itu meningkat secara signifikan sejak pandemi dan tidak menurun dengan cepat. Padahal Indonesia secara konsisten rasio pembayaran utangnya ada di bawah 15% untuk waktu yang lama.

Selain itu defisit anggaran Indonesia juga naik mendekati ambang batas defisit di 3%, tepatnya di level 2,9%. Angka itu lebih tinggi dari perkiraan tahun lalu karena penerimaan yang melemah.

Perkembangan ini dilihat S&P sebagai risiko penurunan terhadap fiskal negara. Loyonya pendapatan dapat membuat beban bunga negara tetap tinggi dan mengikis penyangga fiskal.

"Dua perkembangan yang kami pantau dengan sangat cermat adalah kerangka fiskal jangka menengah, apakah tetap berlandaskan kebijakan aturan fiskal yang mapan, dan kedua, perkembangan pendapatan," kata Yin.

Bila diingat kembali, Moody's Ratings pada awal Februari 2026 juga baru mengubah prospek peringkat Baa2 Indonesia menjadi negatif dari stabil. Moody's menyoroti melemahnya tata kelola dan risiko fiskal di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Prospek Moody's keluar tak lama setelah peringatan dari MSCI tentang perlunya reformasi pasar modal di Indonesia. Hal ini semakin memperburuk sentimen investor asing di Indonesia.

IHSG Kebakaran

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun kebakaran usai mendengar berita dari S&P. Saat pembukaan perdagangan saham Jumat (27/2), IHSG langsung bergerak ke zona merah.

Berdasarkan data perdagangan RTI, IHSG langsung terjun bebas ke zona merah sejak awal pembukaan perdagangan kemarin. Per pukul 09.05 WIB IHSG berada di level 8.168,86, turun 66,39 poin atau sekitar 0,81%.

IHSG langsung loyo seharian di zona merah. Namun, beruntung IHSG masih ditutup di zona hijau saat penutupan.

IHSG ditutup pada level 8.235 atau menguat 0,22 poin. Posisi itu menguat dibandingkan pembukaan yang berada di zona merah pada level 8.211.

Nilai transaksi indeks pada perdagangan hari ini mencapai Rp 38,24 triliun dengan melibatkan 47,63 miliar lembar saham yang diperdagangkan sebanyak 2,52 juta kali.

Dari jumlah transaksi itu, sebanyak 341 saham hari ini menguat, 315 saham melemah dan 163 saham stagnan.

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads