Trump Klaim Harga Daging Sapi, Ayam, dan Telur Turun

Trump Klaim Harga Daging Sapi, Ayam, dan Telur Turun

Andi Hidayat - detikFinance
Sabtu, 28 Feb 2026 15:00 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump kembali menyampaikan pidato kenegaraan di hadapan sidang gabungan Kongres Amerika Serikat di Ruang DPR Gedung Capitol Amerika Serikat, Washington, D.C., Selasa (24/2/2026). Pidato ini menjadi pidato kenegaraan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump.Foto: REUTERS/Kenny Holston
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengklaim pemerintahannya berhasil menekan harga daging ayam, sapi, dan telur. Klaim tersebut ia sampaikan dalam pidato kenegaraannya pada Selasa (24/2) waktu setempat.

Namun berdasarkan laporan CNBC, harga daging ayam dan sapi di AS melonjak sejak Januari 2025. Lonjakan ini terjadi bersamaan dengan kembalinya Trump sebagai Presiden AS.

Menurut sejumlah ekonom pertanian, penurunan harga daging ayam, sapi, dan telur ini tidak semata karena kebijakan pemerintahan Trump. Penurunan harga lebih dipengaruhi oleh faktor ketersediaan dan permintaan produk tersebut di pasar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Presiden Trump benar: inflasi telah mereda, dan harga banyak kebutuhan pokok sehari-hari telah turun atau berada pada jalur yang tepat," kata juru bicara Gedung Putih, Kush Desai, dikutip dari CNBC, Sabtu (28/2/2026).

Harga Daging Sapi

Berdasarkan laporan CNBC, harga daging sapi di AS mendekati harga tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Harga daging naik sepanjang masa jabatan kedua Trump yang terhitung sejak Januari tahun lalu.

ADVERTISEMENT

Berdasarkan data federal, harga daging sapi giling rata-rata mencapai US$ 6,75 per pon pada bulan Januari. Angka tersebut menjadi yang tertinggi menurut data dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS.

Harga tersebut naik 22% dalam periode setahun terakhir, dari US$ 5,55 per pon pada Januari 2025. Capaian tersebut menjadi tingkat inflasi tahunan tercepat sejak Juni 2020, selama masa jabatan pertama Trump.

Kemudian, harga daging sapi potong juga tercatat naik. Rata-rata harga daging sapi steak mentah misalnya, tercatat sebesar US$ 12,30 per pon pada bulan Januari. Angka tersebut naik 13% setahun terakhir, mendekati harga tertinggi sepanjang masa di level US$ 12,51 per pon.

Sementara harga rata-rata daging sapi panggang mentah pada bulan Januari berada di level US$ 8,82 per pon, atau naik 14% mendekati harga tertinggi di level US$ 9,29 per pon pada bulan November tahun lalu.

Kenaikan harga daging ini terjadi akibat rendahnya pasokan ternak seiring meningkatnya permintaan rumah tangga di AS. Selain itu, persediaan ternak sapi di AS saat ini juga berada di titik terendah dalam beberapa dekade terakhir.

Menurut Departemen Pertanian AS (USDA) per 1 Januari 2025, terdapat 27,6 juta sapi potong di AS. Angka tersebut menjadi yang terendah sejak 1961. Kemudian terdapat sekitar 86,2 juta ekor sapi secara keseluruhan di AS, menjadi yang terendah sejak tahun 1951.

Menurunnya jumlah sapi di AS dipengaruhi banyak faktor. Menurut ekonom American Farm Bureau Federation, Bernt Nelson, musim kering yang panjang di AS menyebabkan kualitas padang rumput menurun untuk pakan sapi ternak. Imbasnya, banyak peternak yang mengimpor jerami di negara lain.

Harga Ayam dan Telur

Kemudian untuk harga rata-rata daging ayam dan telur di AS juga tercatat mengalami lonjakan. Untuk harga ayam, naik sekitar 1% setahun terakhir berdasarkan indeks harga konsumen.

Rata-rata harga daging ayam mencapai US$ 4,17 per pon, untuk bagian dada tanpa tulang di bulan Januari. Angka tersebut naik dari US$ 3,97 per pon tahun sebelumnya.

Sementara untuk harga telur Grade A berukuran besar sebelumnya tercatat sempat menyentuh harga US$ 6,23 per lusin. Kemudian harga tersebut menurun sekitar 59% menjadi US$ 2,58 per lusin pada Januari.

Ekonom Wells Fargo Agri-Food Institute, Swanson, menjelaskan sebagian besar penurunan harga telur terjadi imbas meredanya wabah flu burung. Wabah ini tercatat mendorong harga telur ke level yang tinggi pada akhir 2024 hingga awal 2025.

"Kita melihat penurunan harga yang luar biasa dari harga tertinggi yang mencengangkan," katanya.

Berdasarkan data USDA, wabah flu burung ini setidaknya telah merenggut lebih dari 38 juta ayam petelur komersial pada tahun 2024. Kemudian pada awal 2025, tercatat sebanyak 20 juta ekor ayam petelur mati akibat wabah flu burung.

Ekonom Advanced Economic Solutions, Smith mengatakan ada sebanyak 140 juta ayam petelur mati sejak tahun 2022. Meski begitu, dampak wabah flu burung pada akhir tahun 2025 dan awal tahun 2026 belum begitu signifikan terjadi bagi peternak unggas di AS. "Anda tidak bisa pulih dengan cepat dari itu," katanya.

(ahi/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads