Panen Usai, Pertumbuhan Ekonomi Yogya Melambat

Panen Usai, Pertumbuhan Ekonomi Yogya Melambat

- detikFinance
Kamis, 04 Okt 2007 16:53 WIB
Yogyakarta - Pascamusim panen raya, pertumbuhan ekonomi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada triwulan ke III-2007 melambat. Hal itu diungkapkan Pejabat Deputi Bank Indonesia (BI) Yogyakarta, Bramono Sidik kepada wartawan di Hotel Santika Yogyakarta Jl Jenderal Sudirman, Kamis (4/10/2007). "Secara sektoral, melemahnya perekonomian DIY triwulan III disebabkan oleh besarnya andil negatif sektor pertanian setelah selesainya masa panen raya," katanya.Dengan demikian lanjut Bramono, output atau nilai tambah yang dihasilkan oleh sektor tersebut dalam pembentukan PDRB DIY juga menurun drastis dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pada triwulan laporan, kinerja sektor pertanian terkontraksi sebesar 19,28 persen (qtq). Angka kontraksi sektor ini lebih besar dibandingkan dengan kontraksi yang terjadi pada triwulan III-2005 dan III-2006, masing-masing sebesar 14,66 persen dan 10,87 persen (qtq).Dia mengatakan berakhirnya panen raya triwulan III-2007 telah memjadikan sektor pertanian tergeser kembali pada peringkat kedua dibawah posisi sektor perdagangan, hotel dan restoran, setelah pada triwulan II menempati pangsa tertinggi. Sektor pertanian pada triwulan III memiliki pangsa sebesar 17,43 persen. Sedang sektor perdagangan, hotel dan restoran menempati posisi terbesar 21,11 persen."Secara umum semua sektor mengalami pertumbuhan positif pada triwulan laporan, kecuali sektor pertanian dan sektor jasa yang mengalami koreksi setelah pada triwulan sebelumnya mengalami peningkatan yang cukup siginifikan," katanya.Mengenai laju inflasi Yogyakarta, Bramono menjelaskan angkanya naik dari 0,18 persen (qtq) pada triwulan II-2007 menjadi 3,17 triwulan III-2007. Angka infilasi ini sedikit berada d atas angka estimasi titik sebelumnya sebesar 3,08 persen (qtq) dan juga berada di atas angka inflasi nasional yang tercatat sebesar 2,28 persen (qtq) pada periode yang sama. Penyumbang terbesar inflasi berasal kelompok makanan dan minuman dengan andil sebesar 1,16 persen, diikuti kelompok pendidikan, rekreasi dan olehraga sebesar 1,12 persen. Besarnya sumbangan kelompok bahan makanan terhadap infilasi dari harga komoditas telur ayam ras. "Komoditas ini jadi penyumbang inflasi tertinggi kedua sebesar 0,18 persen dan kenyataannya sebelum puasa telur sempat mencapai Rp 10 ribu/kg," kata Bramono. (bgs/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads