Perang Amerika Serikat (AS) & Israel dengan Iran mengguncang ekonomi dunia. Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Senin (2/3/2026). Konflik ini juga membuat dolar AS semakin kokoh dan menekan bursa saham dunia.
Mengutip Reuters, Senin (2/3/2026), harga minyak mentah Brent terakhir naik 8,3% menjadi US$ 78,5 per barel, meskipun sempat menyentuh level US$ 82,00, sementara minyak mentah AS naik 7,5% menjadi U$$ 72,02 per barel.
Kemudian konflik ini juga membuat harga emas sebagai aset aman naik 2,1% menjadi US$ 5.389 per ons.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun lonjakan harga minyak yang berkepanjangan ini berisiko memicu kembali tekanan inflasi secara global, sekaligus bertindak sebagai pajak bagi bisnis dan konsumen yang dapat meredam permintaan.
OPEC+ menyetujui peningkatan produksi minyak yang moderat sebesar 206.000 barel per hari untuk bulan April pada hari Minggu, tetapi sebagian besar produk tersebut masih harus dikeluarkan dari Timur Tengah melalui kapal tanker.
Konflik ini diperkirakan akan berlangsung cukup lama. Bagi para investor, konflik yang terjadi hingga menyebabkan gangguan pasokan energi menjadi kunci arah pasar ke depan.
"Secara historis, pasar sebagian besar mengabaikan konflik-konflik terisolasi di Timur Tengah. Pasar hanya benar-benar bergerak ketika konflik tersebut berpotensi melibatkan seluruh wilayah," kata Michael Field, kepala strategi ekuitas Eropa di Morningstar.
"Untuk saat ini, pasar akan mencoba memastikan berapa lama konflik ini kemungkinan akan berlangsung dan apakah akan melibatkan negara-negara lain," tambahnya.
Bursa Saham Dunia Rontok, Dolar AS Berotot
Konflik yang terjadi ini juga membuat pasar saham dunia tertekan. Indeks STOXX 600 Eropa turun 1,3%, mengikuti pelemahan bursa Asia sebelumnya. Kontrak berjangka S&P 500 AS terkoreksi 1%.
Sektor perbankan turun signifikan imbas adanya kekhawatiran akan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi. Kemudian disusul oleh saham sektor pariwisata yang turun 3%. Saham teknologi juga jatuh di Eropa dan Asia karena investor melepas bagian portofolio mereka yang lebih berisiko.
Namun, saham-saham sektor energi mencatatkan kenaikan besar, bahkan sempat naik 4% di Eropa hingga mencapai rekor tertinggi baru.
Di pasar valuta asing, dolar AS kembali menguat. Mata uang Negeri Paman Sam itu menguat terhadap euro, poundsterling, yen Jepang, hingga franc Swiss.
Dolar AS menguat 0,5% terhadap yen Jepang dan 0,3% terhadap franc Swiss menjadi 157 yen dan 0,7733 franc Swiss.
(hrp/hns)










































