Bos Buruh Ramal Perang AS-Israel Vs Iran Sebabkan PHK Massal di RI

Bos Buruh Ramal Perang AS-Israel Vs Iran Sebabkan PHK Massal di RI

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Selasa, 03 Mar 2026 13:07 WIB
Ilustrasi PHK
Foto: Ilustrasi PHK (Tim Infografis: Zaki Alfarabi)
Jakarta -

Presiden Partai Buruh dan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, memperkirakan perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran berpotensi menciptakan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran di Indonesia.

Said menjelaskan imbas perang di Timur Tengah ini sudah membuat Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur perdagangan energi utama global ditutup. Alhasil harga minyak mentah dunia mengalami lonjakan, memicu kenaikan harga bahan bakar dalam negeri.

"Perang Iran dengan Amerika Serikat plus Israel, itu harga minyak akan melambung tinggi, Selat Hormuz sudah ditutup. Kalau harga minyak melambung tinggi, BBM di Indonesia naik tinggi," kata Said dalam konferensi pers yang dilakukan secara online, Selasa (3/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Masalahnya jika harga BBM domestik naik, maka seluruh industri akan terimbas. Mulai dari kenaikan biaya produksi hingga ongkos kirim alias logistik. Berpotensi menaikkan harga barang dan jasa di Indonesia.

"BBM naik tinggi akan menambah beban ongkos transportasi dan biaya logistik. Konsekuensinya, production cost atau biaya produksi perusahaan naik. Kalau biaya produksi perusahaan naik, maka harga jual barang akan naik. Terjadilah nanti peningkatan harga-harga barang, apalagi mau Lebaran," terang Said.

ADVERTISEMENT

Dalam kondisi terburuk, perang di Timur Tengah ini juga bisa berdampak terhadap rantai pasok industri dalam negeri imbas kenaikan harga bahan baku impor yang disebabkan oleh lonjakan ongkos logistik tadi. Membuat beban produksi industri domestik menjadi sangat berat.

"Impor bahan baku, misal kapas, bahan baku kapas dari Amerika. Kan dengan resiprokal itu kita mengambil bahan baku kapas dari Amerika, dan sebagian dari Amerika Latin dan Australia. Dengan adanya perang, dia akan mengalami habatan dan harganya tinggi. Akibatnya apa? Biaya produksi pabrik tekstil, garmen di Indonesia juga melambung tinggi. Maka dia akan efisiensi. Efisiensi berarti PHK," jelasnya.

Belum lagi menurut Said tak sedikit juga industri dalam negeri yang mengandalkan ekspor akan ikut terganggu. Kondisi ini tentu ikut menjadi beban untuk pengusaha dan industri di Indonesia. Pada akhirnya muncul potensi efisiensi pekerja, membuat para buruh lagi-lagi menjadi korban PHK.

"Ekspor barang-barang produksi Indonesia ke Amerika, ke Eropa, ke Timur Tengah, otomatis tidak bisa masuk selama proses perang. Akibatnya produksi di dalam negeri menumpuk. Kalau dia menumpuk, maka pabrik di Indonesia melakukan efisiensi. Efisiensi produksi berarti PHK. Jadi ujungnya tetap PHK," tegas Said Iqbal.

Untuk itu, ia meminta kepada pemerintah untuk segera menyiapkan langkah-langkah pencegahan dari dampak perang AS dan Israel melawan Iran tersebut. Sehingga buruh Indonesia tidak menjadi korban dari memanasnya tensi geopolitik global.

"Perang Iran dengan Amerika dan Israel pasti akan terjadi PHK besar-besaran. Oleh karena itu kami meminta pemerintah, Bapak Presiden Prabowo Subianto, mengambil langkah-langkah preventif untuk mencegah PHK akibat perang Iran dengan Amerika plus Israel," pungkasnya.

Tonton juga video "PBB: Kita Berada di Risiko Tak Ada Ruang untuk Salah Perhitungan"

(igo/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads