Ramadan selalu identik dengan berkah. Bagi umat Islam, bulan suci ini menjadi momentum peningkatan spiritual.
Di sisi lain, Ramadan juga menjadi penggerak ekonomi kerakyatan, terutama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Maluku Utara (Malut), geliat tersebut terlihat nyata di wilayah sekitar operasional Harita Nickel.
Melalui pasar takjil dan bazar sembako murah, aktivitas ekonomi warga terdorong sekaligus membuka ruang tumbuhnya kemandirian usaha masyarakat lingkar tambang. Inisiatif ini juga memperkuat akses ekonomi produktif warga yang selaras dengan agenda pembangunan daerah berbasis kemandirian dan keberlanjutan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasar Takjil Kawasi Gerakkan UMKM Lokal
Sepanjang bulan Ramadan, permukiman baru Desa Kawasi setiap sore berubah menjadi pusat aktivitas warga. Puluhan pedagang lokal membuka lapak dalam Pasar Takjil dan Bazar 'Sapa Ramadan Harita Nickel'. Tahun ini menjadi tahun kedua kegiatan tersebut digelar, dan antusiasme warga tak surut.
Sebanyak 35 pedagang takjil dan 10 pedagang sembako lokal terlibat. Pasar yang digelar setiap sore itu selalu dipadati pengunjung, baik warga desa maupun karyawan perusahaan.
Foto: Dok. Harita Nickel |
Salah satu pedagang lauk-pauk dan ketupat, Tina, merasakan langsung dampaknya. Sejak bazar dibuka, ia mencatat omzet rata-rata sekitar Rp 1 juta per hari.
Ramadan yang biasanya hanya ramai sesekali, kini berubah menjadi momentum peningkatan pendapatan yang lebih stabil. Kehadiran bazar ini juga dirasakan manfaatnya oleh para pembeli.
Karyawan Harita Nickel, Abdul Khamis Muis, yang rutin berbelanja di sana, mengaku kegiatan tersebut bukan hanya memudahkan akses kebutuhan berbuka, tetapi juga menghadirkan nuansa kampung halaman.
"Hampir setiap sore, saya dan teman-teman berburu takjil di sini. Sekarang sudah jadi kebiasaan. Jajanannya enak-enak, dan buat kami ini sekaligus mengobati kerinduan akan kampung halaman," ujarnya beberapa waktu lalu.
Selain itu, program subsidi diskon dari perusahaan semakin menggerakkan roda ekonomi. Mila dan Tika, kakak beradik penjual aneka jajanan takjil, mengaku dagangan mereka kerap ludes hanya dalam waktu satu jam.
"Baru satu jam buka sudah mau habis. Subsidi ini sangat membantu menambah penghasilan kami. Harapannya bisa ramai terus sampai akhir Ramadan," ujar Mila.
Sementara itu, Community Development Harita Nickel, Suryo Aji menjelaskan pada hari biasa perputaran uang di bazar berkisar Rp 18 juta hingga Rp 20 juta per hari. Angka itu melonjak hingga Rp 50 juta saat program diskon 50% diberlakukan.
"Diskon separuh harga ini kami gelar dua kali selama Sapa Ramadan melalui mekanisme subsidi. Pedagang tetap menerima bayaran penuh sesuai harga normal untuk akumulasi penjualan Rp500 ribu pertama mereka. Ini adalah cara kami menebar kebahagiaan sekaligus memberikan stimulus ekonomi langsung kepada mitra UMKM lokal," jelasnya.
Ramadan di Kawasi pun tak sekadar menghadirkan suasana berburu takjil, tetapi menjadi ruang interaksi yang inklusif sekaligus mempercepat perputaran ekonomi warga.
Bazar Ramadan Soligi Dorong Kemandirian Ekonomi Lokal
Foto: Dok. Harita Nickel |
Geliat serupa juga terasa di Desa Soligi. Pada 20-23 Februari 2026, bazar Ramadan digelar dengan menggandeng Majelis Taklim Az-Zahra, dua majelis taklim lainnya, serta PKK Desa Soligi sebagai panitia.
Paket sembako senilai Rp 300 ribu dijual dengan harga Rp 150 ribu. Setiap paket berisi 5 kg beras, 2 kg tepung terigu, 2 kg gula pasir, 2 liter minyak goreng, dan 1 kaleng susu. Wa Ati, ibu rumah tangga yang memborong tiga paket dan ia mengaku sangat terbantu.
"Sangat-sangat membantu kami para warga. Kami doakan semoga perusahaan bisa berjalan lancar," katanya.
Namun yang menarik, seluruh hasil penjualan sembako tidak ditarik kembali oleh perusahaan. Dana tersebut dihibahkan sepenuhnya sebagai modal usaha bagi mitra lokal setempat.
Majelis Taklim Az-Zahra berhasil menjual habis 120 paket sembako dengan total dana Rp18 juta. Maya, panitia sekaligus pengurus Majelis Taklim Az Zahra, menyampaikan rasa syukurnya.
"Tentu kami juga sangat senang dan berterima kasih ke perusahaan, karena sudah kasih rezeki," ungkapnya sambil tersenyum. Dana yang terkumpul akan digunakan sebagai modal usaha bersama.
Community Relations Manager Harita Nickel, Riyadi Supriadi mengatakan pelibatan elemen masyarakat dirancang agar manfaat program terasa lebih berkelanjutan.
"Tujuan dari bazar murah ini untuk membantu meringankan beban warga memenuhi kebutuhan pokok. Kami melibatkan mitra lokal agar hasil dari penjualannya bisa digunakan untuk modal usaha bersama, sehingga akan tumbuh kelompok-kelompok ekonomi lokal di Soligi," jelasnya.
Kepala Desa Soligi, Madaisi La Siriali melihat program ini sebagai bentuk nyata perhatian perusahaan dalam pemberdayaan ekonomi.
"Kami berharap sinergi antara masyarakat, pemerintah desa, dan pihak perusahaan dapat terus diperkuat melalui kegiatan yang berdampak langsung bagi warga," ujarnya.
Perkuat Inklusivitas
Geliat Ramadan di Kawasi dan Soligi menunjukkan bahwa momentum keagamaan dapat menjadi penggerak ekonomi produktif. Dukungan terhadap UMKM lokal ini sejalan dengan visi pembangunan Pemerintah Provinsi Malut, khususnya dalam mendorong kemandirian ekonomi dan hilirisasi berbasis produktivitas serta memperkuat ketahanan sosial budaya melalui pembangunan berkelanjutan.
Bagi Harita Nickel, kegiatan ini bukan sekadar agenda tahunan. Ramadan menjadi ruang memperkuat inklusivitas, mendekatkan perusahaan dengan warga tanpa sekat, sekaligus membuka akses ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat lingkar tambang.
Dari pasar takjil yang ramai setiap sore hingga bazar sembako yang menjadi modal usaha, Ramadan di Pulau Obi menunjukkan bahwa keberkahan dapat hadir dalam bentuk peningkatan pendapatan UMKM dan tumbuhnya kemandirian ekonomi warga.
Tonton juga video "Menjaga Lisan dan Jempol di Dunia Digital"
(akn/ega)












































