THR Itu Rezeki atau Cuma Numpang Lewat?

THR Itu Rezeki atau Cuma Numpang Lewat?

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Rabu, 04 Mar 2026 12:48 WIB
Ilustrasi THR
Foto: detikcom
Jakarta -

Menjelang hari raya Idul Fitri atau Lebaran, tak sedikit orang merasa dipusingkan dengan berbagai kebutuhan tambahan yang perlu disiapkan lebih awal. Misalkan saja keperluan untuk membeli tiket mudik atau memesan penginapan sebelum kehabisan, membeli pakaian baru, membeli parsel atau kue untuk keluarga dan kerabat, dan masih banyak lagi.

Untuk memenuhi kebutuhan itu, biasanya para pekerja akan memanfaatkan tunjangan hari raya (THR) yang diterimanya dari perusahaan. Namun yang kerap menjadi permasalahan adalah dana tunjangan ini baru dicairkan saat hari raya Lebaran sudah dekat. Padahal keperluan-keperluan tadi sudah harus dibeli lebih dulu jauh-jauh hari.

Dalam kondisi ini perencana keuangan dari Tatadana Consulting, Tejasari, menyarankan yang bersangkutan untuk terlebih dahulu membuat skala prioritas terkait keperluan Lebaran apa saja yang harus disiapkan lebih dulu dan mana yang bisa menunggu usai THR cair.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai contoh, tiket transportasi bagi mereka yang ingin mudik wajib dibeli lebih dulu daripada keperluan yang lain. Sebab jelang libur Lebaran, tiket transportasi kerap sulit di dapat karena lonjakan permintaan. Sehingga keperluan untuk membeli tiket ini menjadi prioritas utama untuk 'diamankan'.

"Untuk mudik itu kita sudah tahu dari dulu dan kalau beli tiket mudik dari jauh-jauh hari itu lebih murah dan bisa dapat lah. Jadi sebaiknya memang khusus untuk tiketnya gitu kan, itu memang sudah kita cicil dari jauh-jauh hari gitu," kata Tejasari kepada detikcom, Rabu (4/3/2026).

ADVERTISEMENT

Sementara untuk keperluan Lebaran yang lain semisal membeli pakaian baru, parsel atau oleh-oleh untuk kerabat, hingga untuk angpau Lebaran bisa disiapkan saat sudah mendapatkan THR. Sebab hal-hal ini masih bisa dicari dan dibeli sebelum hari raya berlangsung.

"Pengeluaran lainnya berkaitan dengan Lebaran bisa dibeli pas dapat THR. Misal mungkin untuk beli oleh-olehnya atau mau kasih amplop THR-nya untuk keluarga, itu kan bisa entar-entar saja gitu ya," terangnya.

Di luar itu, ia mengatakan pada dasarnya tunjangan hari raya yang diterima pekerja juga boleh untuk dihabiskan. Sebab dana itu memang diberikan khusus untuk memenuhi kebutuhan tambahan selama hari raya tadi.

Meski begitu, alih-alih menghabiskan uang THR untuk keperluan konsumtif yang hanya bisa dinikmati sesaat, Tejasari berpendapat ada baiknya dana itu dialokasikan untuk investasi yang bisa digunakan memenuhi kebutuhan di kemudian hari.

"Secara fungsi memang THR itu digunakan untuk hari raya. Tapi kan ini sebenarnya ada uang nih, penghasilan yang lumayan yang seharusnya bisa kita manfaat dengan optimal gitu," ucapnya.

Dalam hal ini Tejasari mencontohkan sebagian dari dana THR itu bisa digunakan untuk melunasi utang atau mengurangi cicilan yang ada. Baik itu cicilan kartu kredit, paylater, pinjol, atau utang yang lain.

"Kenapa kita nggak beresin mumpung ada uangnya? Daripada kita habiskan cuma buat beli makanan, kasih ini kasih itu, beli baju segala rupa. Toh kalau utang lunas pas bulanan kita bisa nabung lebih banyak," ujar Tejasari.

Sehingga ia sangat menyarankan agar dana THR ini dapat digunakan dengan lebih optimal sesuai kondisi finansial masing-masing. Sebab dengan begitu, tunjangan yang diterima setahun sekali itu 'menguap' dan habis begitu saja.

"Boleh nggak buat diri sendiri? Boleh banget tapi jangan semuanya. Kita bagi misalnya buat Lebaran 30%, buat bayar utang misalnya ini ya 50%, sisa 10-20% buat diri kita gitu. Misalnya mau beli apa, mau apa gitu itu juga boleh," papar Tejasari.

"Fokuskan ke prioritas mana yang kesulitan atau kondisi keuangan kamu sekarang ini yang belum bagus. Misalnya dana darurat aku nggak pernah punya, ini waktunya untuk nambah dana darurat loh," tegasnya.

Tonton juga video "Menaker: THR Wajib Cair Paling Lambat H-7 Lebaran, Tak Boleh Dicicil!"

(igo/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads