Total Tetap Investasi di Myanmar
Sabtu, 06 Okt 2007 10:56 WIB
Paris - Raksasa minyak dari Prancis, Total menegaskan tidak punya rencana untuk keluar Myanmar meski sedang terjadi kekisruhan di negara tersebut. Presiden Total Christophe de Margerie menegaskan, pihaknya tidak akan tunduk pada permintaan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy untuk membekukan investasinya di Myanmar."Total tidak akan keluar. Beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ingin kami keluar, tapi beberapa mengenali manfaat dari apa yang sedang kami lakukan," ujar de Margerie dalam pernyataannya seperti dikutip dari AFP, Sabtu (6/10/2007).Pekan lalu, presiden Sarkozy meminta para pebisnis Prancis termasuk Total untuk membekukan investasinya di Myanmar. Permintaan itu dilontarkan menyusul kerusuhan yang dipicu oleh kekejaman junta militer Myanmar."Investasi dinegara tersebut saat ini merupakan provokasi. Namun investasi kami sudah berlangsung sejak 1990-an dan tidak ada lagi sejak itu," tega de Margerie.Ia juga menolak tuduhan bahwa Total telah memaksa para buruh di ladang gas Yadana. Bantahan itu dilontarkan menyusul dibukanya kembali kasus pelanggaran hak asasi manusia dari para pengungsi Myanmar oleh pengadilan Belgia."Sudah ada dua kali kasus sebelum pengadilan di Belgia dan dua kali pula ditolak. Saya ulangi: tidak ada pemaksaan tenaga kerja di instalasi kami," tegasnya.
(qom/qom)











































