Karyawan Pedida Tuntut Pesangon
Minggu, 07 Okt 2007 15:50 WIB
Jakarta - Penutupan PT Panasonic Electronic Devices Indonesia (Pedida), perusahaan asal Jepang yang memproduksi pengeras suara (loud speaker) di Jawa Barat, masih berbuntut. Sebanyak 1.744 buruh perusahaan itu menuntut pesangon. Hari Senin (8/10/2007) besok, Serikat Pekerja Pedida akan bertemu wakil direktur Pedida untuk membahas kelanjutan nasib mereka. Untungnya, sebelum penutupan pabrik terjadi, tunjangan hari raya lebaran telah dibagikan.Demikian dikatakan Sekjen Serikat Pekerja Pedida Suyana dalam perbincangannya dengan detikFinance, Jakarta, Minggu (7/10/2007)."Kita mulai diliburkan tanggal 28 September lalu, kita tuntut pesangon yang dibayarkan disesuaikan dengan masa kerja," ungkapnya. Menurut dia, di Pedida hampir 90 persen telah menjadi karyawan tetap dengan rata-rata masa kerja 10 tahun semenjak pabrik ini resmi berdiri pada tahun 1993.Suyana menjelaskan kondisi yang terjadi saat ini beberapa mesin produksi sudah dipindahkan ke Panasonic Devices Batam. Namun banyak karyawan Pedida ngotot masih datang ke pabrik untuk bekerja."Hubungan antara manajemen dan karyawan selama ini baik-baik saja. Kita sempat shock atas kejadian ini. Perusahaan tidak bangkrut tapi kita ini korban kapitalis pemilik modal mencari yang lebih menguntungkan," ujarnya."Memang ada ajakan untuk bekerja di Panasonic Batam tapi kita tidak mau ikut karena mau lebih fokus bicarakan pesangon," tambahnya.Rencana DemoTerkait maraknya penutupan perusahaan asal Jepang di Indonesia membuat para karyawan yang saat ini bekerja mencari nafkah dari perusahaan tersebut mulai ketar-ketir."Serikat Pekerja Metal Indonesia yang merupakan gabungan dari pekerja perusahaan Jepang berencana akan melakukan aksi pada 31 Oktober 2007," ungkap Suyana."Dasar aksi ini mulai banyak perusahaan Jepang mulai berulah, sedangkan pemerintah sama sekali tidak bersikap," jelasnya.
(arn/asy)










































