Jelang Lebaran, Masyarakat Harus Waspada Penipuan Digital

Jelang Lebaran, Masyarakat Harus Waspada Penipuan Digital

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Minggu, 15 Mar 2026 19:02 WIB
Hacker in hoodie dark theme Hacker in a blue hoody standing in front of a coding background with binary streams.
Foto: Getty Images/sarayut Thaneerat
Jakarta -

Menjelang Idulfitri aktivitas transaksi digital biasanya meningkat dan masyarakat harus lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan digital.

Ancaman penipuan digital juga semakin meningkat seiring pesatnya perkembangan layanan keuangan digital. Modus seperti phishing, social engineering, dan penyalahgunaan data pribadi kini semakin beragam dan sering kali sulit dikenali oleh masyarakat.

Chief Digital & Retail Business Officer Bank Saqu Angela Lew Dermawan mengatakan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari upaya Bank Saqu untuk terus mendampingi nasabah agar dapat bertransaksi secara aman di era digital.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di dunia digital saat ini, ancaman kejahatan siber sering datang tanpa disadari dan tidak selalu terlihat jelas, tetapi dampaknya bisa sangat nyata bagi masyarakat.
"Kami ingin mengingatkan nasabah untuk tetap waspada terhadap berbagai modus penipuan. Melalui 'Awas Hantu Cyber', Bank Saqu berharap masyarakat dapat lebih memahami cara melindungi diri dan menjaga keamanan data pribadi saat bertransaksi," kata dia dalam siaran pers, ditulis Minggu (15/3/2026).

ADVERTISEMENT

Berdasarkan data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang mencatat bahwa Indonesia mengalami ratusan juta anomali trafik siber setiap tahunnya yang berpotensi mengarah pada berbagai serangan digital.

Sementara itu, laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa kerugian masyarakat akibat penipuan digital, termasuk social engineering dan penyalahgunaan OTP, diperkirakan mencapai lebih dari Rp2,5 triliun pada 2024.

Laporan industri juga mencatat bahwa sepanjang November 2024 hingga September 2025 terdapat lebih dari 274 ribu laporan penipuan finansial di Indonesia, dengan estimasi kerugian publik mencapai lebih dari Rp6 triliun.

Selain menghadirkan edukasi kepada masyarakat, Bank Saqu juga terus memperkuat sistem keamanan serta meningkatkan upaya perlindungan transaksi digital guna memberikan pengalaman perbankan yang aman bagi nasabah. Sebagai bank milik oleh Astra Financial dan WeLab, Bank Saqu tidak hanya berfokus pada inovasi layanan keuangan, tetapi juga aktif mendorong peningkatan literasi keuangan digital bagi masyarakat.

"Bank Saqu ingin menjadi lebih dari sekadar penyedia layanan perbankan. Kami ingin hadir sebagai mitra finansial yang membantu nasabah merasa lebih aman dan percaya diri dalam menjalani aktivitas finansial di dunia digital," tutup Angela.

Melalui kampanye "Awas Hantu Cyber", Bank Saqu berharap masyarakat dapat semakin memahami pentingnya menjaga keamanan data pribadi serta meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan digital, sehingga bersama-sama menciptakan ekosistem keuangan digital yang lebih aman.

(kil/kil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads