Terungkap Biang Kerok Macet Horor di Pelabuhan Gilimanuk

Terungkap Biang Kerok Macet Horor di Pelabuhan Gilimanuk

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 16 Mar 2026 11:47 WIB
Foto udara sejumlah kendaraan antre memasuki kapal di Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali, Sabtu (14/3/2026).   Memasuki H-7 Lebaran, arus mudik melalui Pelabuhan Gilimanuk menuju Pelabuhan Ketapang terpantau padat oleh kendaraan pribadi, bus, dan se
Antrean Kendaraan Pemudik Padati Pelabuhan Gilimanuk/Foto: ANTARA FOTO/Budi Candra Setya
Jakarta -

Pengusaha angkutan penyeberangan buka suara soal kemacetan panjang yang terjadi di jalur menuju Pelabuhan Gilimanuk dalam beberapa hari terakhir. Dilaporkan antrean masuk kapal ke Pelabuhan Gilimanuk mengular hingga puluhan kilometer di tengah puncak mudik dan jelang ditutupnya pelabuhan karena Hari Raya Nyepi.

Ketua Umum DPP Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) Khoiri Soetomo menjelaskan pada periode ini terjadi pertemuan dua arus besar sekaligus, yaitu arus mudik Lebaran dan arus keluar masyarakat Bali menjelang pelaksanaan Hari Raya Nyepi. Hal ini membuat volume kendaraan meningkat secara signifikan dalam waktu yang hampir bersamaan.

Di sisi lain, kemacetan panjang yang terjadi juga memperlihatkan bahwa sistem kedatangan kendaraan menuju pelabuhan masih belum tertata secara optimal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Masalah utama bukan hanya lonjakan kendaraan, tetapi juga belum tertatanya sistem kedatangan kendaraan ke pelabuhan serta belum seimbangnya pertambahan armada kapal dengan pembangunan dermaga, baik dari sisi jumlah, kualitas, maupun kapasitas," ujar Khoiri dalam keterangannya, Senin (16/3/2026).

Dia menjelaskan moda transportasi penyeberangan saat ini masih tergolong sangat terbuka dibandingkan moda transportasi lain. Kendaraan dapat langsung menuju pelabuhan meskipun belum memiliki tiket atau kode booking.

ADVERTISEMENT

Kondisi tersebut menyebabkan kendaraan datang secara bersamaan dalam jumlah besar tanpa pengaturan waktu yang jelas, sehingga pelabuhan tidak memiliki mekanisme yang cukup untuk mengendalikan arus kendaraan dari hulu.

Kapasitas Dermaga Rendah

Di sisi lain, pembangunan infrastruktur jalan yang semakin baik, termasuk keberadaan tol, turut mempercepat arus kendaraan menuju pelabuhan. Namun peningkatan kapasitas dermaga sebagai kelanjutan dari sistem transportasi tersebut belum berkembang secara seimbang.

Ketika kapasitas dermaga rendah, hal ini justru menjadi bottleneck dan menimbulkan antrean kendaraan yang panjang tidak dapat dihindari. Pada akhirnya antrean meluas keluar pelabuhan hingga ke jalan nasional.

"Jalan tol mempercepat kendaraan menuju pelabuhan, tetapi kapasitas dermaga belum bertambah secara seimbang. Ketika dermaga menjadi titik sempit, antrean kendaraan tidak terelakkan dan jalan menuju pelabuhan berubah menjadi ruang parkir kendaraan," jelas Khoiri.

Khoiri menegaskan bahwa kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama agar tidak terus berulang setiap tahun. Pihaknya memandang perlunya langkah-langkah sistemik dalam pembenahan transportasi penyeberangan, antara lain melalui penambahan kapasitas dermaga, penataan sistem kedatangan kendaraan menuju pelabuhan, penerapan kewajiban tiket atau kode booking sebelum kendaraan menuju pelabuhan, serta penyediaan buffer zone atau area penyangga kendaraan sebelum memasuki kawasan pelabuhan.

Selain itu, integrasi antara pembangunan infrastruktur jalan dan pengembangan kapasitas pelabuhan juga menjadi hal penting agar sistem transportasi penyeberangan dapat berjalan lebih seimbang dan efisien.

Saksikan Live DetikPagi :

(hal/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads