Boeing Tunda Pengiriman Dreamliner

Boeing Tunda Pengiriman Dreamliner

- detikFinance
Kamis, 11 Okt 2007 14:01 WIB
Boeing Tunda Pengiriman Dreamliner
Chicago - Produsen pesawat Boeing kini tengah ketir-ketir menyusul adanya keterlambatan dalam produksi pesawat baru mereka 787 Dreamliner. Pengiriman pesawat terpaksa mundur 6 bulan. Boeing tidak yakin pengiriman pertama pesawat itu akan bisa dimulai pada Desember 2008. "Kami terus terang sangat kecewa dengan perubahan jadwal ini," ujar CEO Boeing Jim McNerney seperti dikutip AFP, Kamis (11/10/2007).Pesawat 787 Dreamliner diyakini merupakan sumber laba bagi Boeing ditengah persaingan ketat dengan produsen pesawat dari Eropa Airbus.Boeing kini sudah menerima 710 pesanan dari 50 maskapai penerbangan di seluruh dunia dengan total nilai pesanan mencapai US$ 110 miliar.Tapi pada bulan September lalu, Boeing terpaksa memundurkan penerbangan perdana 787. Hal ini terjadi karena kekurangan suku cadang, perangkat lunak dan integrasi sistem pesawat yang belum beres.Presiden Pesawat Komersial Boeing Scott Carson mengatakan ternyata produksi dari pesawat itu lebih rumit dari yang diperkirakan.Carson tetap yakin pengiriman 108 pesawat Dreamliners pada akhir tahun 2009 bisa dilaksanakan, meski harusnya bisa dikirim sebanyak 111 pesawat.Salah seorang manajer di perusahaan Boeing mengatakan 35 pesawat Dreamliner akan mundur pengirimannya dari tahun 2008 menjadi tahun 2009.Gara-gara berita yang tidak sedap ini, saham Boeing turun 2,7 persen menjadi US$ 98,68 . Analis dari Briefing, Kimberly DuBord mengatakan perubahan jadwal itu merupakan langkah mundur bagi program Dreamliner. Hal ini akan membuat investor berpikir lagi jika akan membeli saham Boeing.Salah satu maskapai yang kena getah akibat pemunduran jadwal ini adalah maskapai Australia, Qantas. Qantas akan meminta kompensasi kepada Boeing menyusul adanya keterlambatan pengiriman pesawat itu. Qantas seharusnya menerima 15 Dreamliner pada bulan Agustus 2008, namun mundur 6 bulan."Begitu Boeing mengkonfirmasi adanya keterlambatan jadwal, kami langsung mengadakan beberapa penyesuaian, termasuk apakah kami tetap akan menggunakan pesawat lama," ujar CEO Qantas Geoff Dixon. (ddn/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads